"Aku tidak apa-apa, Rudra... hanya sedikit pusing. Mungkin karena kurang istirahat,” jawab Isvara lirih."Tidak, Sayang. Wajahmu sangat pucat," tegas Rudra tegas, tak menerima bantahan. Ia menggenggam jemari Isvara yang dingin. "Lebih baik pertemuan di Balairung hari ini ditunda dulu, jika kondisimu tidak sehat.”Tak butuh waktu lama, pintu kamar terbuka. Kepala Tabib istana masuk dengan napas terengah-engah, langsung menjatuhkan diri berlutut di tepi ranjang. Setelah memberikan salam hormat, sang tabib mulai memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Isvara, Ia juga meraba titik hangat di leher sang Ratu.Rudra berdiri di sisi ranjang dengan rahang yang mengetat. Matanya yang tajam memperhatikan setiap gerak-gerik tabib itu saat memeriksa Isvara."Tabib, katakan dengan jelas, Ratu sakit apa? Mengapa dia tiba-tiba limbung?"Kepala Tabib perlahan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Isvara.Alih-alih memasang ekspresi cemas, senyum kebahagiaan justru terukir di wajahnya yang
อ่านเพิ่มเติม