“Kok Bapak diem aja?”Pertanyaan dari Zahra membuatku tersentak dari lamunan. Aku baru sadar sejak tadi hanya menatapnya tanpa menjawab apa pun.“Jadi gimana? Bapak mau mandi dulu apa sarapan dulu?” lanjutnya dengan suara lembut.“Mandi,” jawabku singkat.Sengaja. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia akan bersikap seperti ini. Aku ingin tahu alasan apa yang membuatnya tiba-tiba sok baik pagi-pagi begini.“Oke, aku siapkan air hangat untuk mandinya dulu ya, Pak.”Aku hanya mengangguk pelan.Zahra langsung berbalik dan melangkah menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar. Pintu itu terbuka sebentar, lalu tertutup lagi. Dari dalam terdengar suara keran air dibuka, bunyi ember bergeser, dan sesekali suara benda kecil beradu.Sementara itu aku tetap duduk di atas ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Kepalaku masih terasa berat, tapi pikiranku justru terlalu aktif. Banyak hal berputar-putar di dalam sana—Mama, Papa, Pak Nanang… dan sekarang Zahra.Beberapa menit kemudian pintu kam
Last Updated : 2026-03-13 Read more