Zahra menoleh, dahinya berkerut. “Bapak tanya aku?”“Ya iyalah, siapa lagi? Di sini ‘kan cuma ada kita berdua.”“Tapi aku nggak tau, Pak.”“Nggak mungkin kamu nggak tau,” jawabku tak percaya.“Sumpah, Pak.” Kali ini dia menatapku. “Malah aku juga baru tau sekarang kalau ternyata Papa tatoan.”“Jangan bohong kamu, Zahra!" Suaraku meninggi lagi. “Semenjak Papa mengenalmu, dia banyak berubah!”Sendok di tangannya bergetar halus.“Berubah gimana, Pak? Tapi aku benar-benar nggak tau apa-apa.”“Ah, kamu ini sama saja seperti Papa,” kataku sinis. “Suka berbohong. Padahal tinggal jujur saja, apa susahnya? Nanti kamu juga yang nyesel karena aku bisa menghukummu!”Bahuku terasa panas oleh emosi yang tak jelas arahnya.“Tapi aku sudah jujur,” balas Zahra pelan, suaranya bergetar. “Dan kenapa juga nggak Bapak tanya langsung saja ke Papa, biar jelas.”Aku mendengus. “Alah, percuma. Dia juga pasti nggak mau jujur.”Zahra terdiam sejenak. Lalu tangannya kembali menyuapiku, tapi gerakannya makin lamb
Last Updated : 2026-02-24 Read more