“Jangan harap cara ini mempan,” kata Kylar datar, meskipun tangannya refleks menahan pinggang Ryn agar tidak jatuh.Ryn menyeringai kecil, jelas tidak terintimidasi. “Biasanya sih mempan.”Jemarinya mulai bergerak perlahan, menyentuh wajah Kylar. Dari garis rahang yang tegas, naik ke pipi, lalu berhenti di pelipis. Sentuhannya ringan, tapi disengaja.Kylar diam. Tidak menahan, tapi juga tidak membantu. Jujur saja, godaan untuk langsung membalikkan posisi itu ada, besar bahkan. Tapi dia tahan.Dia ingin lihat. Sejauh mana istrinya berani bermain.“Nggak bisa bujuk pakai kata-kata, sekarang ganti strategi, hm?” ucap Kylar pelan, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.Ryn mendekat sedikit lagi, wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Napasnya menyapu bibir Kylar, hangat, sengaja.“Namanya usaha,” bisiknya nakal.Kylar menyipitkan mata tipis. Ada kilatan sesuatu di sana, sesuatu yang jelas bukan lagi sekadar kesal.“Tiga ronde,” ucap Kylar santai, seolah itu tawaran biasa. “Baru
Read more