“Kemungkinannya ada,” jawab Kylar santai. “Meskipun biasanya nggak turun langsung begitu. Kenapa? Panik ya?”“Aku nggak panik,” bantah Ryn. “Ngapain panik? Kamu sendiri yang bilang tugasku nanti cuma menyusui. Jadi, mau anaknya satu, dua, atau lima juga aku nggak bakal kerepotan.”Mengingat percakapan mereka di Jepang beberapa waktu lalu, hati Ryn langsung menghangat sendiri.Sedangkan di seberang sana, Kylar hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Istrinya memang pintar sekali mengingat ucapan yang menguntungkan dirinya.“Memang harusnya gitu,” jawab Kylar. “Tugas kamu itu sehat dan bahagia. Sisanya biar aku yang pusing.”Kalimat itu membuat dada Ryn kembali hangat. Kadang dia heran bagaimana Kylar bisa membuat hal-hal sederhana terdengar begitu menenangkan.“Eh, Mas, udah dulu ya.” Ryn melirik jam di pergelangan tangannya. “Masih ada yang harus aku kerjain. Nanti telepon lagi.”“Oke.” Namun Kylar tidak langsung menutup panggilan. Di seberang sana terdengar jeda beberapa detik sebelu
Read more