Karena Ryn sudah bertekad untuk berhenti bersembunyi, akhirnya setelah keluar dari toilet, dia mengikuti Tino yang mengarahkannya ke salah satu ruangan privat di sisi ballroom.Sepanjang perjalanan, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tidak ada alasan untuk gugup, toh ini hanya percakapan biasa.Namun tetap saja, ketika pintu ruangan itu dibuka dan dia melihat Benny serta Indri sudah duduk menunggunya di dalam, ada bagian kecil dalam dirinya yang kembali menegang.“Silakan, Nyonya.” Tino mempersilakan sebelum mundur keluar dan menutup pintu.Ryn mengembuskan napas pelan lalu melangkah mendekat.“Selamat malam, Pak. Bu.” Ryn mengulurkan tangan lebih dulu kepada Indri. Namun di luar dugaan, wanita bergaun zaitun itu justru bangkit dari duduknya dan memeluknya singkat.“Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung seperti ini,” sambut Indri hangat.Ryn sempat membeku sepersekian detik. Jujur saja, ini jauh dari bayangannya.Entah kenapa dia selalu membayangkan pertemuan pertama mer
더 보기