Leon sontak menoleh dengan wajah panik. Lehernya bahkan sampai memanjang mencari sosok Kylar di antara pengunjung kafe.Melihat ekspresi itu, Ryn tak mampu lagi menahan tawanya. "Bercanda! Tegang amat mukanya, Mas Leon.""Ya ampun, Ryn. Jantungku hampir copot kamu bikin." Leon mengembuskan napas panjang sambil memegangi dada."Kalau Pak Kylar beneran denger, aku juga nggak bisa bantu apa-apa," timpal Agis sambil terkekeh.Ryn hanya menggeleng geli sebelum memilih duduk di sebelah Lala. Sementara itu, Leon dan Agis duduk tepat di hadapan mereka.Begitu pandangannya menyapu satu per satu wajah ketiga sahabatnya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya. Tidak ada tatapan iba. Tidak ada pertanyaan tentang rumah sakit, kecelakaan, atau kehilangan yang baru saja menghantam hidupnya.Mereka justru sibuk menggodanya seperti dulu, membiarkan obrolan-obrolan receh memenuhi meja itu seolah ingin mengingatkan bahwa di tengah duka yang masih tersisa, hidup tetap menyediakan ruang untuk terta
Read more