“Emangnya aku pembawa sial, Ryn?” protes Agis, tidak terima. “Jahat ba–”Kalimat Agis terhenti di tengah jalan. Bukan karena kehabisan kata-kata, melainkan karena dari balik bahu Ryn, Agis menangkap sosok Kylar yang baru saja datang dan berdiri beberapa langkah di belakang istrinya.Tatapan Kylar jatuh tepat kepadanya, datar seperti biasa, tetapi cukup untuk membuat keberanian Agis yang tadi menggebu-gebu menguap tanpa sisa.Agis buru-buru mengubah ekspresinya. “Maksud aku, itu kamu baik hati, nggak sombong, dan rajin menabung.” Dia bahkan sempat tersenyum canggung sebelum mengangguk sopan kepada Kylar. “Pak, sehat?”Ryn langsung menahan tawa. Dia tahu persis perubahan sikap itu bukan karena Agis mendadak sadar sopan santun, melainkan karena laki-laki di depannya baru menyadari siapa yang sedang berdiri di belakangnya.Anne pun ikut menoleh ke arah Kylar, lalu kembali melihat Agis dengan tatapan geli. Beberapa detik lalu laki-laki itu masih bicara soal cincin dan lamaran dengan penuh
Read more