🍠 🍠 🍠 🍠 🍠 🍠 🍠 🍠 🍠 🍠Grisna mematung, pandangannya terpaku pada layar ponselnya yang berkedip, menampilkan nama "Paman Nyoman". Jantungnya berdentum keras, bukan karena rindu, melainkan karena firasat buruk yang selalu menyelimuti setiap interaksinya dengan sang paman. Di sampingnya, Adnan, dengan tatapan tajam dan wajah penuh kekhawatiran, seolah membaca keraguan di benak Grisna."Angkat saja, dengar apa yang dia bicarakan," desak Adnan, suaranya pelan namun penuh penekanan. Ada nuansa perhitungan dalam intonasi Adnan, seolah setiap kata dari Nyoman adalah petunjuk penting dalam teka-teki yang sedang mereka hadapi.Grisna menarik napas dalam, memantapkan diri. Jemarinya menekan ikon hijau di layar, lalu mengaktifkan mode speaker, memastikan setiap orang yang ada di ruangan itu bisa mendengar percakapan mereka. Sebuah keputusan yang bijak, mengingat betapa licinnya lidah sang paman."Halo," jawab Grisna, suaranya sengaja dibuat datar, menyembunyikan badai emosi yang berkeca
Ler mais