Keluarga Buk Sita kemudian berbalik menghadap Adnan, ekspresi wajah mereka penuh rasa hormat dan penghargaan yang mendalam. "Terima kasih banyak, Dokter Adnan. Kami tidak akan pernah melupakan jasa Anda yang telah menyelamatkan nyawa ibu kami. Jika ada apa-apa yang bisa kami bantu, silakan beri tahu kami saja," kata salah satu anak lelaki Buk Sita, yang bernama Herman, dengan suara yang sedikit gemetar karena bahagia."Ah maaf, saya bukan dokter," kata Adnan dengan senyum ramah, menggeleng-geleng kepala perlahan. Dia kemudian membungkuk kembali sebagai balasan penghormatan dari keluarga itu. "Saya hanya orang yang belajar sedikit tentang ilmu medis, tapi... sama-sama. Saya hanya melakukan hal yang bisa saya lakukan. Yang paling penting adalah kekuatan doa dari kalian semua dan kesabaran Ibu Sita dalam menjalani proses penyembuhan.""Dokter Adnan, maaf, saya berulang kali menyebutnya, Anda sungguh orang yang rendah hati sekali dengan kemampuan luar biasa yang Anda miliki," kata Dokter
Baca selengkapnya