Debu kayu yang membubung ke udara perlahan menyapu pekarangan rumah joglo yang hening. Di tengah tumpukan serpihan pohon yang hancur, Wira berdiri kaku tanpa bergeming."Wira!" jerit Clara histeris, memecahkan keheningan senja.Clara berlari kencang menerjang jarak dari teras, melupakan rasa syok yang baru saja menghantam dadanya. Dia berlutut di tanah pekarangan, langsung menarik tubuh kecil putranya ke dalam pelukan."Wira, kamu nggak apa-apa, Nak? Ada yang sakit?" tanya Clara dengan napas tersengal-sengal.Tangan Clara gemetar hebat saat meraba lengan dan bahu Wira. Begitu dia mengangkat telapak tangan mungil putranya, tangis dokter itu seketika pecah tak terbendung.Kulit halus di telapak tangan Wira tampak membiru memar. Lecet-lecet dalam menghiasi jemari polosnya, meneteskan darah segar akibat menahan benturan balok kayu berbobot ratusan kilogram tadi."Aduh... Sakit, Ibu..." bisik Wira meringis pelan, matanya mulai berkaca-kaca menahan nyeri."Sabar ya, Sayang. Ibu obati sekara
Terakhir Diperbarui : 2026-07-24 Baca selengkapnya