Aku mulai hafal langkah kakinya.Bukan karena aku menunggu.Aku hanya… terbiasa.Setiap sore menjelang tutup toko, ada jeda kecil dalam kesunyian. Seolah waktu sengaja melambat beberapa detik, memberi ruang untuk seseorang datang tanpa harus terburu-buru.Dan hampir selalu, itu dia.Dimas.Hari itu, aku sudah berdiri di belakang kasir ketika pintu terbuka. Suara lonceng kecil di atasnya berbunyi pelan. Aku tidak langsung menoleh, tapi aku tahu.“Kamu kelihatan lebih hidup hari ini,” katanya.Aku mengangkat kepala. “Lebih hidup?”Ia mengangguk. “Matamu tidak terlalu kosong.”Aku tidak tahu harus tersinggung atau berterima kasih.“Aku memang hidup,” jawabku datar.Ia tersenyum tipis. “Iya. Tapi tidak semua yang hidup terlihat benar-benar ada.”Kalimat itu menggantung di antara kami.Aku mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah rapi.“Kamu selalu datang di jam yang sama,” kataku, mencoba m
Last Updated : 2026-04-02 Read more