Home / Rumah Tangga / Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya / Bab 16 – Aku Hampir Sembuh

Share

Bab 16 – Aku Hampir Sembuh

Author: Pena ngkap
last update publish date: 2026-04-16 19:02:17

Ada masa di mana aku percaya bahwa aku sudah melewati semuanya.

Bukan karena aku kuat.

Bukan juga karena aku benar-benar sembuh.

Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.

Dan anehnya… itu terasa seperti kesembuhan.

Sampai Arga muncul lagi.

Sejak hari itu, ada sesuatu dalam diriku yang berubah—lagi.

Bukan hancur seperti dulu.

Lebih seperti retakan lama yang tiba-tiba terbuka kembali, memperlihatkan bagian yang selama ini kupaksa diam.

Aku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 16 – Aku Hampir Sembuh

    Ada masa di mana aku percaya bahwa aku sudah melewati semuanya.Bukan karena aku kuat.Bukan juga karena aku benar-benar sembuh.Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.Dan anehnya… itu terasa seperti kesembuhan.Sampai Arga muncul lagi.Sejak hari itu, ada sesuatu dalam diriku yang berubah—lagi.Bukan hancur seperti dulu.Lebih seperti retakan lama yang tiba-tiba terbuka kembali, memperlihatkan bagian yang selama ini kupaksa diam.Aku masih datang ke toko. Masih bekerja. Masih tersenyum secukupnya. Dari luar, tidak ada yang berbeda.Tapi di dalam… pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.Setiap suara pintu terbuka membuatku refleks menoleh.Setiap langkah kaki yang mendekat membuat dadaku menegang.Aku tidak tahu apakah aku takut dia datang…atau takut dia tidak datang.Dan aku membenci diriku sendiri karena tidak tahu jawabannya.Dimas tetap datang.Tidak setiap hari. Tidak seperti dulu. Tap

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 15 – Masa Lalu Tidak Pernah Pergi

    Aku pikir aku sudah cukup jauh.Bukan dari kota.Bukan dari orang-orang.Tapi dari semua hal yang pernah menghancurkanku.Aku pikir jarak bisa menghapus sesuatu.Atau setidaknya… mengaburkannya.Ternyata tidak.Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali—dalam bentuk yang tidak pernah kita siapkan.Hari itu dimulai seperti biasa.Aku bangun, menyeduh kopi, menatap jendela kecil di kamarku yang tidak pernah menawarkan pemandangan apa pun selain gang sempit dan dinding kusam. Aku sudah terbiasa dengan itu. Tidak ada yang berubah.Dan justru itu yang membuatku tenang.Aku berangkat kerja tanpa banyak pikiran. Jalanan terasa sama. Langkahku ringan dalam cara yang netral—tidak berat, tidak juga bersemangat.Di toko, semuanya berjalan seperti biasa.Pelanggan datang dan pergi. Suara mesin kasir. Plastik yang berdesir. Sapaan singkat yang tidak meninggalkan arti.Aku berdiri di balik meja, menjalani hari seperti garis lurus yang tidak pernah ber

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 14 – Aku Takut Bahagia

    Aku pikir rasa sakit adalah musuh terbesarku.Ternyata bukan.Yang paling menakutkan adalah ketika rasa itu mulai hilang… dan digantikan oleh sesuatu yang tidak bisa kupercaya lagi.Bahagia.Bukan bahagia yang besar.Bukan juga yang meledak-ledak.Hanya… ringan.Seperti udara yang tiba-tiba terasa lebih mudah dihirup.Seperti langkah yang tidak lagi terasa berat tanpa alasan.Dan justru itu yang membuatku ingin lari.Sejak hari aku menjauh dari Dimas, semuanya kembali seperti semula. Atau setidaknya, terlihat seperti semula. Aku kembali diam. Kembali menjaga jarak. Kembali menjadi versi diriku yang aman—yang tidak berharap apa pun.Tapi ada satu masalah kecil.Aku tahu rasanya hampir bahagia.Dan setelah itu, semua jadi berbeda.Aku berdiri di balik kasir seperti biasa, tapi sekarang setiap detik terasa lebih panjang. Aku tidak lagi hanya menjalani waktu—aku menahannya. Seolah jika aku tidak bergerak, sesuatu tidak akan berubah

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 13 – Hampir, Tapi Selalu Gagal

    Ada hal-hal kecil yang tanpa sadar mulai berubah.Aku tidak lagi selalu menunduk saat berbicara.Aku mulai menjawab sedikit lebih panjang.Dan yang paling aneh… aku mulai menunggu.Bukan menunggu seseorang dengan harapan besar.Hanya… menunggu sesuatu yang tidak ingin kuakui.Dimas datang seperti biasa, tapi sekarang kehadirannya tidak lagi terasa seperti gangguan. Ia menjadi bagian dari ritme hariku—tenang, tidak memaksa, tapi selalu ada.Hari itu, ia datang lebih awal. Matahari belum sepenuhnya turun, cahaya sore masih masuk dari kaca depan toko.“Kamu belum tutup,” katanya.“Belum,” jawabku.Ia mengambil minuman, lalu berdiri di depan kasir. Tapi kali ini, ia tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri, memperhatikanku seperti sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis.“Kamu lagi mikir apa?” tanyanya.Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.”Ia tersenyum tipis. “Kamu sering bilang itu.”“Karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan.”

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 12 – Dekat, Tapi Tidak Pernah Sampai

    Aku mulai hafal langkah kakinya.Bukan karena aku menunggu.Aku hanya… terbiasa.Setiap sore menjelang tutup toko, ada jeda kecil dalam kesunyian. Seolah waktu sengaja melambat beberapa detik, memberi ruang untuk seseorang datang tanpa harus terburu-buru.Dan hampir selalu, itu dia.Dimas.Hari itu, aku sudah berdiri di belakang kasir ketika pintu terbuka. Suara lonceng kecil di atasnya berbunyi pelan. Aku tidak langsung menoleh, tapi aku tahu.“Kamu kelihatan lebih hidup hari ini,” katanya.Aku mengangkat kepala. “Lebih hidup?”Ia mengangguk. “Matamu tidak terlalu kosong.”Aku tidak tahu harus tersinggung atau berterima kasih.“Aku memang hidup,” jawabku datar.Ia tersenyum tipis. “Iya. Tapi tidak semua yang hidup terlihat benar-benar ada.”Kalimat itu menggantung di antara kami.Aku mengalihkan pandangan, pura-pura sibuk merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah rapi.“Kamu selalu datang di jam yang sama,” kataku, mencoba m

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 11 – Aku yang Tidak Lagi Merasa

    Aku mulai terbiasa dengan hari-hari yang tidak meninggalkan jejak.Bangun. Duduk. Minum kopi. Pergi kerja. Pulang. Tidur.Siklus itu berulang tanpa banyak perubahan, seperti jam rusak yang tetap bergerak tapi tidak pernah benar-benar menunjukkan waktu.Orang-orang bilang, waktu menyembuhkan.Tapi tidak ada yang bilang bahwa sebelum sembuh, waktu juga bisa menghapus banyak hal—perlahan, tanpa izin.Aku tidak lagi menangis saat mengingat masa lalu. Bahkan untuk sekadar merindukan, aku harus memaksakan diri. Seolah-olah hatiku telah menutup pintu, bukan hanya untuk rasa sakit, tapi untuk semua kemungkinan rasa.Aku tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi.Mungkin saat aku berhenti menunggu.Mungkin saat aku berhenti bertanya.Atau mungkin saat aku memutuskan bahwa tidak merasakan apa-apa lebih aman daripada merasakan semuanya.Di toko, aku tetap berdiri di balik meja kasir, seperti biasa. Senyumku masih ada. Suaraku masih terdengar normal. Tidak ada yang berubah dari luar.Tapi aku tahu—ak

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 6 – Keputusan yang Tidak Pernah Memilihku

    Aku tahu hari itu akan datang.Aku hanya tidak menyangka caranya akan sesunyi ini.Arga pulang sore, lebih cepat dari biasanya. Tidak ada pesan. Tidak ada peringatan. Aku sedang melipat pakaian di ruang tengah ketika pintu terbuka. Ia masuk dengan langkah ragu, seolah rumah ini bukan lagi

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 5 – Status yang Menyakitk

    Ada kalimat yang terdengar mulia, tapi bisa melukai lebih dalam dari hinaan mana pun:“Kamu kan istrinya.”Kalimat itu diucapkan dengan nada lembut, seolah memberiku posisi terhormat. Padahal, di baliknya tersembunyi tuntutan yang berat—bertahan, mengalah, dan tetap tersenyum.Aku men

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 4 – Aku Tidak Lagi Dipilih

    Ada fase dalam luka yang tidak lagi terasa perih.Bukan karena sembuh, tapi karena terlalu sering disentuh.Aku berada di fase itu.Setelah malam pengakuan setengah-setengah Arga, rumah kami berubah menjadi tempat yang asing. Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan pintu. Tidak ada dr

  • Aku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya   Bab 3 – Perempuan yang Tak Pernah Kuinginkan Ada

    Aku tidak pernah membayangkan akan bertemu dengannya secepat ini.Perempuan yang selama ini hanya hadir sebagai perasaan, sebagai dugaan, sebagai nama tanpa wajah di kepalaku.Hari itu sebenarnya hari biasa. Aku hanya ingin membeli beberapa kebutuhan rumah—sabun, gula, kopi kesukaan Arga.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status