Pagi itu Alina bangun dengan kepala terasa berat. Tenggorokannya kering, tubuhnya hangat, dan pikirannya sedikit melayang. Ia duduk pelan di tepi ranjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kurang tidur. Semalam ia hampir tidak bisa terlelap. Terlalu banyak pikiran. Terlalu banyak nama. Ia tetap berangkat sekolah. Keputusan yang kemudian ia sesali. Jam kedua pelajaran, pandangannya mulai kabur. Huruf-huruf di papan tulis seperti menari terlalu cepat. “Lin, kamu pucet banget,” bisik Luna. “Cuma pusing dikit.” Luna menyentuh dahinya. “Ini bukan dikit. Kamu panas.” Sebelum Alina sempat membantah, wali kelas sudah memperhatikan. “Alina, kamu ke UKS saja.” Alina terlalu lelah untuk berdebat. Ia berjalan pelan menuju UKS, setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya. Lingga sedang di kelas ketika Dito menyikutnya. “Eh, cewek lo masuk UKS.” Dito yang duduk disamping jendela melihat Alina berjalan lunglai dan masuk UKS Lingga langsung menoleh tajam. “
Read more