Lingga duduk di ruang kerja ayahnya, jas abu-abu rapi menempel sempurna di tubuhnya. Lampu plafon memantulkan garis tipis di kaca jendela. “Aku ingin kau mulai menjalin hubungan serius, Lingga,” suara ayahnya tegas namun tenang. “Anak rekan bisnis kita, Nadine… dia anak tunggal, kariernya bagus, cantik, cerdas. Ini akan menjaga hubungan bisnis sekaligus kehidupan pribadimu.” Lingga menatap ke luar jendela. Jalanan Jakarta seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti. Ia mengangguk pelan. “Baik,,” jawabnya singkat. Tidak ada antusiasme, hanya kepasrahan yang tenang. Hatinya kosong. Semangatnya dalam percintaan sudah lama padam sejak malam itu dengan Alina. Hidup berjalan, cinta terasa seperti tugas yang tak perlu diperjuangkan. Ia mengikuti saja arahan ayahnya. --- Fashion show itu berlangsung di hotel bintang lima di pusat kota. Lingga masuk ke VIP lounge, duduk di kursi yang menghadap langsung ke catwalk. Lampu sorot menyorot panggung, musik elektronik lembut mengalun.
Read more