Santi benar-benar menunjukkan bakat aktingnya yang luar biasa. Dia berulang kali menyuapkan potongan waffle ke mulutku, mengusap sudut bibirku dengan tisu, dan menyandarkan kepalanya di bahuku seolah akulah satu-satunya pria yang ada di hatinya.Aku membiarkannya, meski setiap sentuhannya terasa seperti ulat bulu yang merambat di kulitku. Gatal dan ingin aku singkirkan!"Mas, anterin ke Indoapril depan itu bentar ya," pinta Santi begitu kami keluar dari kafe.Aku mengangguk patuh, melajukan motor ke arah minimarket yang ditunjuknya. Di dalam hati, aku merasa jijik. Mengingat isi pesan tadi, aku bisa menebak benda apa yang akan dia beli di sana.Benar saja, saat keluar, dia memasukkan kantong plastik kecil ke dalam tas dengan wajah yang sangat ceria. Mungkin dia sudah sering main kotor begini. Aku saja yang terlalu bodoh, menjadi kacungnya hanya karena foto vulgar rebahan di bawah selimut yang sama."Sudah, Sayang? Yuk, aku antar pulang," tawarku sambil menyodorkan helm."Eh, nggak usa
Last Updated : 2026-02-17 Read more