"Jadi arisan keluarga di rumah kamu malam ini, Mas? Ibu mau dibawakan ikan apa? Mumpung aku masih di gudang ini," tanyaku ceria lewat sambungan telepon. Tanganku yang terbungkus sarung tangan karet sibuk memilah udang vaname kualitas ekspor.Aris tidak langsung menjawab. Hening sejenak di seberang sana."Mas, kamu denger aku, kan? Halo!""Iya, denger, Len." Suara Aris terdengar berat, seolah ada beban yang menyumbat tenggorokannya."Oh, syukur. Aku bawain tongkol, kakap merah, sama kembung, ya? Ikan segar semua ini, baru bongkar." "Ehm, Len... kamu nggak perlu repot-repot," jawab Mas Aris ragu-ragu. Ada nada sungkan yang tidak biasa dalam suaranya."Nggak usah sungkan, Mas. Aku otw sekarang. Aku bawain udang kesukaan adikmu juga, ya. Sudah ya, Mas, aku tutup dulu!"Aku tersenyum, memasukkan ponsel ke saku celemek, dan dengan sigap mengangkat box styrofoam berukuran sedang."Mau ke mana toh, Mbak? Cerah sekali wajahnya?" tanya Mas Toto, karyawan kepercayaanku di gudang."Ke mana lagi
Last Updated : 2026-01-30 Read more