"Pesanan nomor tiga belas," ucapnya lirih, sedikit serak, sambil menunjukkan layar ponselnya ke arahku. Benda pipih itu menjadi salah satu tanda cintaku untuknya."Len. Ehm, Mbak Lena." "Ah, oh, iya." Aku tersentak, mendapati tangan Mas Aris bergerak-gerak di depan wajahku, menyadarkan dari lamunan singkat yang tidak bisa kusangkal."Pesanannya masih diproses koki. Tunggu sebentar, Mas. Duduk dulu," jawabku kaku, berusaha membuang muka.Sialnya, tidak ada Anna atau Mas Toto di sini yang bisa menemaninya berbincang. Mereka pergi ke gudang ikan di jalan Sudirman karena ada bongkar muat ikan yang baru datang dari pelabuhan. Situasi semakin canggung karena tidak ada pelanggan lain. Benar-benar hanya kami berdua. Aku tidak ingin terlihat tidak sopan atau menyimpan dendam yang kekanak-kanakan. Tanpa diminta, aku menuangkan segelas teh dari dispenser di sudut ruangan, menambahkan bongkah es, dan menyerahkannya. "Minum dulu,
Read more