“AKHH! Max!” Aruna memekik, suaranya memantul di dinding kamar mandi yang sempit. “Sakit... tapi... ahhh, jangan berhenti!”“Kau selalu menjadi sasaran yang paling pas, Aruna,” bisik Max sambil mulai memacu temponya.Gerakan Max di ruang sempit itu terasa begitu liar dan tanpa ampun. Setiap sentakan membuat kepala Aruna terbentur pelan ke dinding, namun ia tidak peduli.Ia mencengkeram bahu Max, kuku-kukunya menusuk kulit pria itu di balik kemeja mahalnya. Suara napas yang tersengal-sengal dan suara penyatuan mereka memenuhi ruangan kecil itu, menciptakan atmosfer yang pengap oleh aroma seks dan parfum mahal.“Kau gila... ahhh... benar-benar gila!” Aruna mengerang, tubuhnya melengkung saat Max menyentuh titik terdalam di rahimnya.“Dan kau menyukainya,” balas Max dengan napas memburu. Ia meremas payudara Aruna dari balik kain gaun, membuat payet-payet tajam sedikit menggores telapak tangannya, namun ia tidak peduli. “Katakan padaku, kau menyukai caraku memperlakukanku seperti ini!”“Y
Last Updated : 2026-03-16 Read more