Pintu apartemen berdenting halus saat sensor biometrik mengenali sidik jari Aruna. Begitu melangkah masuk, suasana di dalam terasa jauh lebih berat dari biasanya. Lampu-lampu kristal hanya berpijar redup, menyisakan bayangan panjang di dinding marmer.Di tengah ruangan, Max sudah duduk di kursi kulitnya, masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku. Di tangan kanannya, sebuah gelas berisi wiski dengan es batu yang mulai mencair ia putar-putar perlahan.Tanpa sepatah kata pun, Max meletakkan sebuah agenda bersampul kulit hitam di atas meja kopi.Aruna mendekat, meletakkan tasnya, dan meraih agenda itu dengan ragu. “Apa ini?”“Baca saja,” jawab Max pendek, suaranya parau namun penuh otoritas.Aruna membuka lembaran pertama. Matanya memicing, lalu keningnya berkerut dalam saat membaca baris demi baris jadwal yang tertulis dengan sangat detail di sana. Tanggal, lokasi di sebuah hotel bintang lima, daftar menu, hingga daftar tamu VIP.Aruna mendongak, menatap Max denga
Última actualización : 2026-02-25 Leer más