Bara melempar tubuh Marissa ke tengah kasur. Kasur itu langsung amblas karena beban mereka berdua."Spreinya licin banget, Tan. Kayak sabun," kata Bara. Dia meraba kain sutra itu dengan telapak tangannya yang kasar.Marissa mengatur napasnya. "Mahal itu, Bar. Tapi sekarang terserah kamu mau diapain."Bara langsung naik ke atas tubuh Marissa. Dia mencengkeram kedua tangan wanita itu dan menekannya kuat ke bantal."Tangan saya ini kasar, Tan. Bekas cangkul waktu masih di kampung. Nggak apa-apa kena kulit Tante?" tanya Bara sambil menyeringai."Nggak apa-apa. Malah enak, Bar. Berasa banget bedanya," jawab Marissa pelan. Matanya menatap Bara dengan tatapan lapar.Bara tidak banyak tanya lagi. Dia langsung mencium leher Marissa. Dia menghisap kulit putih itu kuat-kuat sampai membekas merah."Aduh! Sakit, Bar. Pelan sedikit," rintih Marissa."Tadi katanya mau ngerasain orang desa. Begini cara saya main, Tan. Nggak ada lembut-lembutnya," sahut Bara. Suaranya berat dan serak.Bara mulai berge
Baca selengkapnya