Bara masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya yang sudah terkunci. Matanya menatap langit-langit, mencoba mencari sisa kesabaran yang mungkin terselip di sana. Di belakangnya, dia bisa merasakan aura haus dari wanita yang berstatus sebagai ibu tirinya itu.Marissa masih duduk di sana, di ranjang milik Bara. Dia tidak bergeser satu senti pun. Malah, dia mulai memainkan ujung rambutnya dengan jari telunjuk."Bar, kenapa diam saja di situ. Sini," panggil Marissa lagi. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan perintah yang dibungkus godaan.Bara menghembuskan napas keras. Rasa lelahnya mendadak berubah menjadi percikan amarah yang panas. Dia muak. Muak dengan bapaknya, muak dengan Keyla, dan yang paling utama, muak dengan cara Marissa memperlakukannya seperti mainan pemuas nafsu."Tante benar-benar mau dipijat," tanya Bara. Suaranya kini tidak lagi memelas. Nada suaranya berubah menjadi sangat dingin. Ada getaran berat yang membuat Marissa sedikit tersentak di tempat duduknya."Iya,
Read more