Bara melangkah masuk ke kamar utama. Wangi melati dan aromaterapi langsung menyergap indranya. Marissa sudah menunggu, berbaring telungkup di atas ranjang king size dengan jubah tidur sutra hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya."Sini, Bar. Bahu Tante kaku sekali," bisik Marissa tanpa menoleh.Bara duduk di tepi kasur. Dia menuangkan minyak hangat ke telapak tangannya, lalu mulai menekan otot bahu Marissa yang padat."Gusti... jarimu kuat sekali, Bar," desah Marissa pelan."Tante kurang istirahat. Terlalu banyak pikiran," sahut Bara datar, meski matanya tak bisa lepas dari lekuk punggung di depannya.Tiba-tiba, suara deru mesin mobil masuk ke halaman. Disusul suara pintu pagar otomatis yang berderit menutup.Marissa langsung tersentak duduk. Wajahnya pucat pasi. "Mas Handoko! Dia pulang, Bar!""Bukannya besok?" Bara refleks berdiri, jantungnya mulai berpacu."Nggak tahu! Cepat, sembunyi di lemari! Jangan sampai dia lihat kamu!" Marissa mendorong Bara ke arah walk-in closet d
Read more