Siska tersenyum tipis. Dia memungut jam tangan Bara yang sudah rusak itu, lalu menjatuhkannya ke pangkuan Bara. "Tapi kita tidak mati, kan? Itu yang paling penting."Bara hanya bisa terdiam. Dia menatap jam tangannya yang kini tidak lebih dari sekadar rongsokan plastik dan besi. Napasnya masih terasa berat. Ruangan VIP itu tiba-tiba terasa sangat menyesakkan bagi Bara.Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berdiri. Kakinya masih sedikit gemetar, tapi dia memaksakan diri untuk melangkah."Aku pergi," kata Bara pendek.Siska tidak menahannya. Wanita itu hanya memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bara keluar dari ruangan itu, melewati lorong-lorong sepi tempat gym yang mulai tutup, dan segera menuju parkiran motor.Udara malam Jakarta menyambutnya. Dingin, namun terasa jauh lebih segar daripada udara di dalam loker tadi.Bara memakai helmnya, menyalakan mesin motor, dan memacu kendaraannya membelah jalanan. Di sepanjang jalan, hanya ada satu nama yang berputar-putar di kepalan
Last Updated : 2026-04-12 Read more