Bara mengaduk soto di mangkuknya tanpa selera. Uap panas dari kuah kuning itu menerpa wajahnya, bercampur dengan udara kantin yang pengap dan gerah. Di depannya, Arum sedang berjuang memisahkan tulang ayam dari dagingnya dengan sangat telaten."Bar, kok nggak dimakan? Sayang lho, ini sotonya enak banget. Jarang-jarang aku bisa makan tenang begini kalau nggak ditraktir kamu," kata Arum. Dia menyuap sesendok nasi penuh kuah ke mulutnya. "Nyam!"Bara melirik Arum sejenak. "Habisin saja punyaku kalau kamu masih laper, Rum.""Ih, kamu pikir aku tangki bensin apa? Tapi kalau kamu beneran nggak mau, ya sudah, nanti buat aku saja," jawab Arum sambil nyengir. Pipinya yang agak chubby bergerak-gerak saat dia mengunyah.Bara tidak menjawab. Matanya kembali menyapu pintu masuk kantin. Pria bertopi hitam itu masih di sana, berdiri menyandar di tiang. Dia tidak memesan makanan, tidak juga memesan minuman. Matanya hanya tertuju pada satu titik: Bara.Bara tahu kenapa pria itu ada di sana. Ini pasti
Read more