Aku tertidur lelap di bahu mas Angga, terbungkus jas besarnya yang hangat. Aroma parfumnya seolah menjadi bius yang membuatku merasa aman, jauh dari rasa sakit yang baru saja ditorehkan mas Hendra.Roby, yang duduk di depan, melirik melalui spion tengah. Ia melihat tuannya, sang pria es yang tak tersentuh itu, perlahan mengulurkan tangan. Jemari mas Angga mengusap lembut helai rambutku yang masih agak lembap, lalu turun mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Tatapan mas Angga yang biasanya tajam dan menusuk, kini melunak. Ada sorot kerinduan dan kepedihan yang dalam di sana.Roby berdehem kecil, ia merasa sedang mengintip sebuah momen yang terlalu pribadi. Ia pun salah tingkah sendiri.“Ehem, Pak Angga, maaf. Sepertinya ban depan agak kurang angin. Saya izin menepi sebentar untuk mengeceknya,” ucap Roby memberi alasan yang cukup masuk akal. Mas Angga hanya bergumam pendek, “Hmm.”Begitu mobil berhenti di jalanan yang cukup sepi, Roby buru-buru keluar, membiarkan kami hanya berdua di
Read more