“Mas, mau sampai kapan kamu bersikap egois soal cucu? Jika dibandingkan dengan Angga, selama ini Hendra sudah melakukan apa pun. Dia bekerja jauh lebih keras dari Angga!” ucap ibu mertuaku, Sarah. Wajahnya tampak memerah, menahan sisa amarah yang belum tuntas tersampaikan.Surya, ayah mertuaku, hanya menoleh sekilas tanpa melepaskan rokok yang terselip di jemarinya. Ia menyesapnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan ke udara, seolah-olah perdebatan istrinya hanyalah gangguan kecil.“Bicara apa kamu, Sarah. Aku hanya mencoba adil pada mereka berdua,” jawab ayah Surya. “Adil bagaimana?” serang Ibu Sarah lagi. Ia melangkah mendekat ke arah kursi suaminya. “Jelas-jelas Angga adalah putra kandungmu, darah dagingmu sendiri. Sementara Hendra? Kamu tahu statusnya bagaimana, tapi kamu tetap memberikan beban yang sama beratnya. Kenapa kamu tidak mau sedikit saja melunak pada Hendra?”Ayah Surya meletakkan rokoknya di asbak, lalu menatap istrinya dengan pandangan tajam yang membuat
Read more