Aku menarik napas, lalu mengangguk pelan. “Kita simpan untuk Mama, ya.”"Taruh di kulkas saja. Tahan kok sampai besok," imbuh Rani sambil mengambil sebuah piring kecil lalu mengulurkannya kepadaku"Nah, yang paling pertama untuk Mamamu," ucapku.Dia mengangguk, meski jelas ada sesuatu yang ditahannya.Aku memotong potongan kedua, lalu menyerahkannya ke Aluna. Dia menerimanya dengan kedua tangan, seperti sesuatu yang sangat berharga.“Terima kasih, Om,” katanya tulus.Aku hanya mengangguk, tidak yakin harus menjawab apa.Dari arah dapur, adik Sephia yang sejak tadi sibuk menyiapkan makanankeluar sambil membawa beberapa piring.Dia melirik ke arah kami, lalu tersenyum tipis saat melihat kue yang sudah dipotong.“Wah, kelihatannya enak, ya? Om yang beli ini?” tanyanya ringan.Aku menoleh, sedikit kikuk.“Kalau hadiahnya, Sephia yang beli,” jawabku seadanya.
閱讀更多