Jawabannya cepat. “Baik, Pak.”Beberapa detik kemudian, pintu diketuk.“Masuk.”Pintu terbuka. Sephia masuk dengan langkah tenang, lalu berdiri di depan meja kerjaku. Tangannya terlipat rapi di depan, sikapnya tetap profesional.Melihat itu, Kak Lora menegadahkan kepalanya. Melihat ke arah Sephia, lalu ke arahku.“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”Aku menatapnya beberapa detik.Dekat seperti ini, aku bisa melihat lebih jelas, wajahnya sedikit pucat, ada kelelahan yang tidak bisa sepenuhnya dia sembunyikan. Tapi dia tetap berdiri tegak.Kuat, seperti biasa. Dan yang terhebatnya adalah seolah kejadian semalam sudah dilupakan olehnya begitu saja.Aku menarik napas pelan.“Kita tidak perlu berpura-pura,” ucapku akhirnya.Dia tidak langsung menjawab.Hanya diam.“Duduk,” kataku.Sephia ragu sejenak, lalu menurut. Dia duduk di kursi di depan Kak Lora, sementara aku menarik kursi di sampingnya lalu duduk pelana, sambil tetap menjaga jarak.Hening beberapa detik."Ada apa?" tanya Kak Lora mula
閱讀更多