Aku menatap wajah tua yang mencerminkan rasa lelah yang luar biasa."Capek, Pa ...," ucapku dengan suara lirih.“Cepat sembuh, ya, Pa,” ucapku lirih.Tanganku sempat menyentuh punggung tangannya.Dingin.Tapi masih ada hangat kehidupan di sana.Aku duduk lebih lama dari yang kusadari, membiarkan ruangan itu menjadi tempat satu-satunya di mana aku bisa benar-benar diam tanpa harus memikirkan siapa pun.Namun jauh di dalam pikiranku, aku tahu. Ayah sedang berjuang dalam setiap napas yang dia tarik.Denyut nadi yang berbunyi di alat pelacak jantungnya."Aku ingin Ayah baik-baik saja. Aku ingin Ayah merasakan kehidupan kekeluargaan yang indah dengan percintaan bersama dengan Ibu Tiri."Bunyi bip dari mesin yang menjadi jawaban atas pertanyaanku.Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki pelan terdengar dari arah pintu. Aku menoleh, melihat Ibu tiriku dan Kak Diana masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.“Eh, kalian kok kemari… Kak Lora sendiria
閱讀更多