Aku meletakkan kembali ponselnya ke meja, sedikit menjauh dari jangkauan tangannya. Malam ini, dia tidak perlu melihat itu. Tidak perlu kembali terluka.Aku kembali memeluknya.Namun kali ini, pikiranku tidak bisa diam.Ada Kak Lora yang rapuh dan Richard… Aku mengepalkan tangan. Pesan apa lagi yang dia kirim?Pria itu bahkan tidak langsung mengejar. Tidak langsung menjelaskan. Seolah semuanya bisa ditunda, seolah luka yang ia buat tidak akan membesar setiap detiknya.Aku menggertakkan gigi, berusaha menahan emosi yang mulai naik.Kalau saja ini bukan tentang Kak Lora, mungkin aku sudah—Gerakan kecil di pelukanku membuatku tersadar.Kak Lora bergerak sedikit, alisnya berkerut, seperti mimpi buruk kembali menghampirinya.“Jangan…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.Aku langsung mengencangkan pelukanku. “Shh… nggak apa-apa, Ka
閱讀更多