Cahaya matahari sore merembes lewat jendela kaca patri raksasa di ruang singgasana utama Istana Astrum-Glace. Cahayanya yang hangat membiaskan corak merah tua dan emas yang berpendar dingin di atas lantai marmer putih bersih tanpa cela. Di pusat ruangan, di atas singgasananya yang bertahtakan permata, Kaisar Benedict duduk seorang diri. Sudah dua hari, Permaisuri Esthelle mengeluh sakit kepala dan beristirahat di kamarnya. Sang permaisuri tidak berniat mendampingi kaisar di samping takhtanya. Sementara, tumpukan perkamen laporan harian yang sengaja disaring manis oleh para menteri korup, masih tergeletak tak tersentuh di atas meja di samping singgasana kaisar. "Ini terlalu tenang untuk sebuah hari yang tidak biasa di Luxandria," bisik kaisar pada dirinya sendiri. Tak ada anggota dewan, para menteri, bahkan pengawal sekalipun yang berada di sekitar sang kaisar. Hanya seorang bangsawan yang masih setia menemani kaisar tua itu. "Apa ada kabar dari Utara, Count Vane?" Kal
閱讀更多