Langit malam di atas Ibukota Valeranthia tampak kelam. Berhiaskan bintang-bintang yang berserakan tanpa kehangatan. Namun, ketenangan semu itu sama sekali tidak dirasakan oleh penghuni utama Istana Astrum-Glace. Di dalam ruang sidang utama yang luas, udara terasa begitu menyesakkan. Kaisar Benedict duduk terpaku di atas singgasana emasnya, napasnya memburu tidak teratur. Di hadapannya, beberapa bangsawan setia yang tersisa—Archduke Valerian, Count Vane, serta segelintir menteri—berdiri dengan kepala tertunduk dalam. Tidak ada suara sorai kejayaan, tidak ada perdebatan politik. Yang ada hanyalah keheningan mati yang dipenuhi ketakutan luar biasa. "Ulangi apa yang baru saja kau katakan," suara Benedict bergetar hebat, merendah namun penuh ancaman mematikan. Manik matanya yang memerah menatap tajam ke arah seorang prajurit pengintai yang berlutut gemetar di lantai marmer. Prajurit itu menelan ludah dengan susah payah, sekujur tubuhnya berlumuran debu dan darah kering. "W
閱讀更多