Mag-log in"Harusnya aku yang menjadi, Permaisuri! Bukan wanita licik itu!" *** Seraphina von Astrea mati di tangan suaminya sendiri, Valerius D’Argenteau. Padahal dia yang mengantarkan pria itu naik takhta. Namun, justru wanita lain yang mendapatkan mahkota yang seharusnya milik Seraphina, adik tirinya sendiri. Di titik terakhir kehidupannya, Seraphina bersumpah, jika ada kehidupan selanjutnya, dia akan membalas pengkhianatan ini. Bukannya mati, Seraphina justru terbangun saat berusia delapan belas tahun. Tiga bulan sebelum dirinya resmi diangkat sebagai Putri Mahkota. Kali ini, dia tidak akan melakukan kebodohan yang sama. Alih-alih memberikan takhta kekaisaran pada Valerius, Seraphina justru mengajukan pernikahan politik dengan Duke Killian von Eisenhardt. Musuh keluarga Astrea yang paling dihindari. "Akan kurebut mahkotaku sendiri, Valerius. Kau hanya perlu merangkak di kakiku memohon kematian!" more info: IG: @yoruakira TikTok: @ruangbercerita.0_
view more"Ugh!"
Suaranya tersekat, ketika sensasi terbakar itu mulai menyerang tenggorokannya. Racun itu merambat secepat kilat. Mencabik-cabik paru-parunya hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca yang membara. Seraphina von Astrea terbatuk, dan saat ia melihat telapak tangannya, cairan kental berwarna merah gelap telah menodai kulit pucatnya. Cring! Cawan perak berukir lambang kekaisaran itu tergeletak tak berdaya di lantai marmer. Berputar sebentar sebelum akhirnya berhenti di dekat ujung sepatu bot kulit yang sangat ia kenali. Sosok Seraphina kini bersimpuh, merayap dengan sisa tenaga di bawah kaki suaminya. Tangannya yang gemetar menggapai udara. Jemarinya yang berlumuran darah berusaha mencengkeram jubah kebesaran emas pria yang baru saja ia hantarkan ke puncak tertinggi kekuasaan. "Valerius..." bisik Seraphina. Suaranya parau, pecah oleh cairan yang menyumbat kerongkongannya. "Tolong... panggil... dokter... seseorang berusaha meracuni permaisurimu..." Pria yang telah ia cintai selama lima tahun itu sama sekali tidak bergerak. Valerius D’Argenteau Valeranthia VIII hanya berdiri menjulang seperti patung dewa yang tak tersentuh. Pria itu menatap istrinya dari ketinggian takhtanya dengan sorot mata yang jauh lebih dingin daripada salju abadi di puncak Utara. Tidak ada kilat cinta, tidak ada kepanikan, bahkan tidak ada setetes pun penyesalan. Yang tersisa hanyalah kepuasan bengis yang tersungging di sudut bibirnya. "Permaisuriku? Dasar perempuan bodoh," suara Valerius bergema. Memantul di dinding-dinding aula perjamuan yang kini terasa seperti makam. "Apa kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan orang sepertimu tetap hidup setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan? "Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan bernapas di samping takhtaku." Seraphina tertegun, rasa sakit di dadanya kalah oleh hantaman kata-kata itu. "Apa... maksudmu? Aku... aku yang merencanakan segalanya untukmu..." "Justru karena itu!" Valerius membungkuk sedikit, menatap mata Seraphina yang mulai berair. "Kau membangun tangga untukku menuju takhta ini dengan tanganmu yang berdarah. Kau tahu semua rahasiaku. Kau tahu bagaimana aku menjatuhkan ayahku sendiri. "Di dunia politik, Seraphina, orang yang paling berguna adalah orang yang paling pertama harus disingkirkan setelah tugasnya usai. "Kau adalah noda terakhir yang harus kuhapus agar sejarah mencatatku sebagai kaisar yang suci." Rahang Valerius semakin mengencang. "Kalau saja kau bisa hamil dan mengandung anakku, kau mungkin masih bisa berguna lebih lama. "Sayangnya kau mandul Seraphina. Kau tak ada gunanya lagi!" Langkah kaki yang ringan dan anggun terdengar mendekat dari balik pilar besar di sudut ruangan. Seorang wanita muncul dengan gaun merah menyala yang berkibar indah, kontras dengan gaun perak Seraphina yang kini kotor. Liza, adik tiri yang selalu ia manjakan, melangkah dengan dagu terangkat. "Kakakku yang malang," Liza berujar, suaranya merdu namun kini terdengar begitu tajam. "Masih tidak mengerti juga? Padahal kau selalu membanggakan kecerdasanmu di depan ayah. "Kau kebanggaan Astrea, tapi aku tidak menyangka hanya segini kecerdasan yang kau anggap dapat menyelamatkanmu itu?" "Liza... kau..." "Ssh," Liza meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang dipoles gincu merah darah. Perempuan yang lima tahun lebih muda dari Seraphina itu tertawa kecil. Suara yang dulu dianggap Seraphina sebagai simfoni termanis, kini terdengar seperti desis ular yang siap mematuk. "Valerius tidak pernah membutuhkanmu sebagai permaisuri. Seorang kaisar butuh pendamping yang memujanya, bukan wanita yang mendikte setiap langkah politiknya. "Dia hanya membutuhkan strategimu untuk menggulingkan kaisar tua yang keras kepala itu. Dan sekarang..." Liza berjalan melintasi tubuh Seraphina yang sekarat seolah-olah kakaknya hanyalah tumpukan sampah di lantai. Tanpa ragu, ia menghambur ke pelukan Valerius. Seraphina menyaksikan dengan mata yang mulai mengabur saat suaminya menarik pinggang Liza dengan posesif—tangan yang masih mengenakan cincin pernikahan mereka kini membelai pipi adiknya. Valerius menyambut ciuman panas Liza dengan gairah yang tak pernah ia tunjukkan pada Seraphina selama bertahun-tahun pernikahan mereka. "Kau memang pantas menjadi ratuku, Liza," ucap Valerius pelan setelah tautan bibir mereka terlepas. "Hanya kau yang mengerti bagaimana cara merayakan kemenangan ini." Setiap kata itu menghantam dada Seraphina lebih menyakitkan daripada racun mana pun yang sedang merusak organ tubuhnya. Amarah mendidih dalam darahnya yang mendingin. Inilah upah bagi kesetiaannya. Ia telah mengkhianati nuraninya, menghancurkan musuh-musuh Valerius, dan merancang pemberontakan berdarah hanya untuk menyaksikan suaminya memberikan mahkota yang ia perjuangkan kepada wanita lain. "Selamat tinggal, Kakak. Sekarang tempatmu, takhtamu, dan pria ini... semuanya adalah milikku!" Liza melepaskan diri dari Valerius dan berlutut di samping Seraphina. Dengan gerakan kasar, Liza menjambak rambut Seraphina, memaksa kepala kakaknya terdongak. Ia mengambil sisa cairan hitam di dalam cawan perak tadi dan menuangkannya paksa ke mulut Seraphina yang terengah. "Minumlah sampai habis. Aku tidak ingin ada keajaiban yang membuatmu tetap hidup," bisik Liza tepat di telinganya. Seraphina tersedak, cairan pahit itu membanjiri paru-parunya. Pandangannya mulai gelap, namun api kebencian di matanya belum padam. Ia menatap Valerius dan Liza yang kini berdiri berdampingan, terlihat seperti pasangan sempurna di atas penderitaannya. 'Aku bersumpah...' desis Seraphina dalam hati yang hancur. Matanya membelalak, merekam setiap inci wajah para pengkhianat itu untuk terakhir kalinya. 'Jika ada kehidupan setelah neraka ini... jika ada dewa yang masih adil... aku akan kembali. Aku akan merobek senyum itu dari wajah kalian dan memastikan kalian memohon kematian lebih dariku saat ini!' Kegelapan total akhirnya menelan segalanya. Kesadarannya hilang, menyisakan keheningan di aula kerajaan Valeranthia yang agung namun terkutuk.Keheningan menyelimuti halaman benteng setelah ucapan tajam Seraphina meluncur. Lily, yang tadinya merasa di atas angin, mengerutkan kening. Senyum kemenangan Lady Allen sedikit memudar, digantikan oleh kilat kewaspadaan. "Apa maksudmu?" desis Lily, suaranya nyaris tertelan deru angin malam. Seraphina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah perlahan kembali ke arah barisan ksatria. Kali ini, ia tidak menatap tangan mereka. Matanya yang ungu, setajam elang yang mengincar mangsa, menyisir bagian bawah jubah dan perlengkapan tambahan para ksatria. "Maxwell," panggil Seraphina lembut, namun nada suaranya membuat ksatria itu kembali menegang. "Ya, Lady?" "Berapa lama kalian beristirahat di kaki bukit sebelum memasuki gerbang utama?" Maxwell tampak berpikir sejenak. "Hanya sekitar lima belas menit, Lady. "Tuan Duke memerintahkan agar kami segera sampai sebelum badai turun." Seraphina mengangguk perlahan. Ia berhenti tepat di depan salah satu ksatria yang berada di barisan pa
Raut muka Lily menegang. Sorot matanya menatap Killian dengan tatapan pengharapan. "Apa maksudmu, Killian? Oakhaven? Aku tidak membawa apa pun dari sana!" Sementara Seraphina menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah mencapai matanya.Perempuan itu melangkah mendekati Lily, hingga ujung gaun mereka bersentuhan di atas salju yang kotor. "Nona Allen, sebenarnya saya tak yakin sebelumnya. Tapi, begitu mendengar ucapan Tuan Duke, saya menyadari bahwa penciuman saya selalu benar," bisik Seraphina, suaranya cukup keras untuk didengar para ksatria. "Zat ini disebut Vitriol Ungu. Hanya diproduksi terbatas di wilayah Barat."Bukankah itu cukup dekat dengan perkebunan keluarga Allen? Dan baunya... sangat khas, seperti mawar yang membusuk." Wajah Lily memucat pasi. Sapu tangannya jatuh ke atas salju yang kini ternoda cairan hitam. "Kalau begitu, kita akan mencari tahu siapa pelakunya segera," lanjut Killian sembari memberi tanda pada para penjaga untuk mengurung area halaman.
Langit di atas Benteng Eisenhardt telah berubah menjadi ungu pekat yang mencekam saat rombongan Grand Duke Killian melintasi gerbang utama. Deru roda kereta yang berat di atas bebatuan kastil terdengar seperti guntur yang teredam. Namun, di balik kelelahan fisik para ksatria, ada ketegangan yang merambat lebih cepat daripada hawa dingin malam itu. Lily von Allen berdiri di teras utama, menggenggam sapu tangan sutranya dengan jemari yang gemetar karena kegembiraan yang meluap. Perempuan itu mengenakan gaun beludru paling megah yang ia miliki. Wajahnya dipulas rona merah yang tampak kontras dengan salju di sekitarnya. "Killian!" Lily berseru.Suaranya melengking riang, seolah perselisihan di balkon tempo hari tak pernah terjadi.Lily berlari kecil mendekati kuda Killian yang masih mendengus mengeluarkan uap panas. Killian turun dari pelana dengan gerakan efisien, namun segera mengangkat tangan untuk memberi jarak saat Lily mencoba mendekat. "Jangan sekarang, Lily. Kami baru saja
Rombongan Grand Duke Killian mulai melambat saat jalur setapak di hutan Pegunungan Kelabu semakin menyempit dan menanjak. Udara yang tipis membawa aroma belerang yang samar. Pertanda bahwa mereka sudah dekat dengan "kuali raksasa" tersembunyi itu. Seraphina memacu kudanya hingga sejajar dengan Killian. Mata ungu miliknya menatap lurus ke arah punggungan es di depan.Tempat di mana beberapa minggu lalu ia nyaris kehilangan nyawa di ujung tombak sang kepala suku. "Kau tampak jauh lebih tenang kali ini, Lady Seraphina," ucap Killian. Suaranya berat namun ada nada hangat yang terselip di sana. Pria itu melirik perempuan di sampingnya yang kini mengenakan jubah bulu serigala pemberian Duchess Sophia—sebuah kontras dari jubah tipis Selatan yang ia kenakan saat pertama kali mendaki gunung ini. "Tentu saja. Saya datang untuk menagih hasil, bukan untuk bernegosiasi dari titik nol, Tuan Duke," sahut Seraphina datar. Ia menepuk saku jubahnya. Tempat di mana bros perak keluarga Astrea yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu