Kamar itu gelap. Ketukan kecil terdengar dari arah jendela. Bukan pintu—jendela. Eliza yang duduk di tepi ranjang dengan rambut terurai dan pakaian rumah yang baru ia ganti mendongak. Instingnya sudah tahu sebelum ia sempat melihat. Hanya satu orang yang tahu jalur itu. Ia berdiri, melangkah ke jendela, membukanya setengah. Frederick berdiri di sisi luar— jaket gelapnya larut dalam malam, wajahnya sebagian tersembunyi di balik bayangan. "Masuk," kata Eliza. Frederick masuk tanpa suara. Eliza menutup jendela, memutar kunci, lalu berbalik. Mereka bertatapan dalam redupnya kamar. "Kau." suara Eliza keluar pelan, bukan berteriak— justru itu yang lebih berbahaya. Pelan, terkontrol, tapi di baliknya, sesuatu menunggu untuk meledak. "Kau yang ada di balik semua ini." Frederick tidak langsung menjawab. Ia melangkah ke kursi di sudut kamar, duduk, dengan siku berada di lutut. Terlalu tenang untuk situasi ini, "Kau baru pulang dari perjalanan panjang, El. Kau kelelahan—" "Jangan," Eliza memo
Last Updated : 2026-04-06 Read more