Malam turun perlahan di mansion utama Serphent, membawa hawa dingin yang tidak mampu hilang oleh megahnya lampu-lampu kristal. Di ruang tamu yang luas, Rachel berdiri terpaku di depan jendela tinggi, memandangi kesibukan di halaman. Para pekerja bergerak seperti semut, menyusul bunga-bunga putih yang terlihat pucat di bawah remang lampu, menggelar karpet merah tak berujung. Semuanya terlihat sempurna di permukaan. "Besok semua mata akan tertuju pada kakakku," ucap Rachel pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin yang menghantam kaca. Erdogan mendekat, langkahnya teredam karpet tebal. Ia berdiri di belakang istrinya, menatap pemandangan yang sama. "Dan pada keluarga kita, Rachel." Rachel tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Tidak. Hanya pada Roberto. Aku ingin melihat, apakah dia benar-benar sudah berdamai dengan masa lalunya, atau justru sedang membangun makam untuk masa depannya sendiri." Ia menoleh, menatap suaminya dengan sorot yang terlalu tajam untuk se
Last Updated : 2026-02-28 Read more