Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela besar apartemen penthouse milik Erdogan dan Rachel, memantul di atas lantai marmer yang mengilap bersih. Di luar sana, kota London masih bergerak sibuk seperti biasa. Mobil-mobil berlalu lalang, orang-orang berjalan terburu-buru, dan dunia sama sekali tidak peduli bahwa dua dinasti besar saat ini sedang saling mencabik reputasi satu sama lain. Tetapi, suasana di dalam apartemen mewah ini justru terasa jauh dari kata tenang. Rachel duduk bersandar di sofa ruang keluarga dengan sebuah tablet digital di pangkuannya. Wajah wanita yang tengah mengandung itu tampak semakin pucat ketika matanya membaca halaman demi halaman berita yang kini memenuhi seluruh media utama Inggris. Foto Eliza dan Frederick yang terlihat hina terpampang di mana-mana, dikuliti oleh tajuk utama yang kejam, analisis politik, spekulasi perselingkuhan, hingga komentar liar publik yang bercampur menjadi satu. Rachel menelan ludahnya dengan susah payah. "Dia benar
閱讀更多