BRAAAKKK! Suara tembakan keras terdengar dari arah gerbang depan pondok, disusul dengan hantaman masif pada pintu kayu utama. Pasukan Serphent tidak sekadar mengetuk—mereka datang untuk meruntuhkan seisi rumah di tengah hari kelabu ini. Eliza tidak perlu berpikir dua kali. Seluruh keangkuhan, kelicikan, dan harga dirinya luruh dalam satu detik, digantikan dengan naluri bertahan hidup yang murni. Ia menatap Adam penuh kebencian yang mendalam, tapi kepalanya mengangguk cepat. "Aku pergi," bisik Eliza, suaranya hampir tenggelam oleh suara hantaman pintu di depan. Adam hanya memberikan senyum tipis yang dingin, seolah keputusan Eliza hanyalah gerak bidak catur yang sudah ia perkirakan sejak awal. Tanpa sepatah kata pun, Adam berbalik dan melangkah cepat menyusul Berlina yang sudah lebih dulu menuju pintu belakang, dikawal ketat oleh sisa pasukannya. "Ayo, Eliza! Jalan!" Frederick bangkit berdiri secepat kilat. Ia menyambar pistolnya kembali dari atas meja, kemudian mencengkera
閱讀更多