Keheningan di vila itu terasa jauh lebih menyiksa daripada kemarahan Gavin semalam. Aruna terbaring kaku, menatap tetesan infus yang jatuh dengan ritme yang monoton—seperti waktu yang perlahan merenggut sisa-sisa harapannya.Ceklek.Pintu terbuka. Gavin masuk dengan pakaian yang sudah berganti, rapi dan dingin seperti biasa. Namun, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur sejak mereka kembali dari kantor lama Ayah. Di tangannya, ia membawa nampan berisi bubur dan segelas susu hangat."Makan," perintahnya singkat. Ia meletakkan nampan itu di meja nakas, lalu duduk di tepi ranjang.Aruna memalingkan wajah ke arah jendela. "Aku tidak lapar.""Dokter bilang kamu harus makan jika ingin janin itu selamat. Atau kamu ingin aku menyuapimu dengan cara yang tidak menyenangkan?" Gavin mencengkeram dagu Aruna, memaksanya menoleh.Tatapan mereka beradu. Aruna melihat ada badai di mata Gavin—keraguan yang mulai menggerogoti keyakinannya setelah mendengar nama 'Sari' se
Last Updated : 2026-05-11 Read more