Pukul tujuh pagi tepat. Klakson sedan hitam Gavin sudah meraung di depan pagar rumah Ibu. Aruna berdiri di teras dengan dua koper besar dan tas kerja yang ia dekap erat—tas yang kini ia tahu berisi alat pelacak."Sudah siap, Aruna? Ayo, biar aku bantu bawa kopernya," Gavin keluar dari mobil, wajahnya tampak segar dengan kemeja navy yang digulung sampai siku."Aku bisa sendiri," ketus Aruna."Jangan keras kepala. Kamu sedang tidak dalam kondisi untuk mengangkat beban berat," bisik Gavin sambil merebut paksa koper dari tangan Aruna. Matanya melirik perut Aruna sekilas, sebuah tatapan yang membuat Aruna mual.Ibu dan Maya keluar untuk melepas kepergian Aruna."Gavin, titip Aruna ya. Jaga dia baik-baik," ucap Ibu sambil tersenyum tulus."Pasti, Bu. Saya akan pastikan Aruna mendapatkan semua yang dia butuhkan di apartemen baru itu," jawab Gavin dengan nada yang terdengar begitu protektif.Apartemen baru itu terletak di lantai paling atas, dengan akses lift pribadi yang hanya bisa terbuka d
Terakhir Diperbarui : 2026-03-16 Baca selengkapnya