Laras senjata itu terasa dingin di telapak tangan Aruna, namun panas di hatinya jauh lebih membakar. Ia tidak sedang berdiri di depan seorang bos mafia, melainkan di depan pria yang telah berbagi ranjang dengannya, pria yang napasnya pernah menyatu dengan napasnya."Aruna, turunkan itu. Kamu sedang mengandung, guncangan emosi ini tidak baik untuk bayi kita," suara Gavin terdengar rendah, mencoba masuk ke dalam celah kewarasan Aruna."Bayi kita?" Aruna tertawa pedih, air matanya jatuh membasahi gaun merahnya yang terbuka. "Bayi ini adalah saksi bisu betapa pintarnya kamu bersandiwara. Kamu bukan pelindungku, Gavin. Kamu adalah penjara yang aku puja."Bram, sang pemilik ruangan, hanya menyesap cerutunya sambil menikmati drama di depannya. "Gavin, sepertinya koleksimu punya taring. Menarik sekali.""Keluar, Bram! Sekarang!" bentak Gavin tanpa melepaskan pandangannya dari Aruna.Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap. Hanya ada deru napas mereka berdua. Gavin melangkah maju, perlahan
Last Updated : 2026-05-05 Read more