Anak perempuan itu mengenakan gaun kecil merah dan sepatu kulit hitam, tampak lembut dan menggemaskan, sementara anak laki-laki memakai rompi dan kemeja, bertopi baret, dia menggenggam erat tangan si gadis kecil, wajah mungilnya menunjukkan kedewasaan yang tidak sesuai usianya.Wajah mungil mereka yang menawan memancing decak kagum di sekelilingnya."Anak-anaknya lucu sekali, tadi mereka memanggil siapa mama?"Saat semua orang sedang membicarakannya, kedua anak itu masing-masing memeluk satu kakiku.Aku berjongkok, mengangkat putriku, lalu mengusap rambut putraku, sambil tersenyum berkata, "Terima kasih ya, Kakak sudah menjaga adik selama ini."Begitu mereka menyadari itu adalah anak-anakku, orang-orang di sekitar kembali bersorak heboh.Divora sempat tertegun, lalu sudut bibirnya terangkat dengan senyum yang tak bisa ditahan.Wajah Zavian justru menjadi pucat.Cincin meluncur dari tangannya dan jatuh ke lantai, bibirnya yang pucat bergetar, di matanya selain keterkejutan, lebih banyak
Read more