Share

Bab 4

Author: Cahaya
Zavian yang tadi bilang sibuk entah sejak kapan sudah muncul di ambang pintu, wajahnya muram saat mempertanyakan aku.

Seperti menggenggam jerami penyelamat, aku lalu menceritakan pada Zavian bagaimana tadi dia berbicara sembarangan dan memprovokasiku.

Hubunganku dengan Zavian sudah bertahun-tahun, meski kadang dia bertindak sembrono, tetapi dia selalu sangat memercayaiku, bahkan sampai memberitahukan aku sandi kartu ATM-nya.

Aku kira dia akan percaya padaku. Namun siapa sangka, baru selesai mendengarkan, dia malah menoleh ke Divora. "Divora, apa yang dikatakan Chania itu benar?"

Nada bicaranya jauh lebih lembut dibanding saat menghadapi diriku.

Divora buru-buru menggeleng, nadanya terdengar penuh keluhan,

"Mana mungkin? Mana berani aku bersikap seperti itu pada Kak Nia? Belum lagi Kak Nia itu pacarnya Kak Vian, dia juga seniorku, mana mungkin aku seberani itu?"

Setelah Divora selesai bicara, Zavian menatapku dengan ekspresi menginterogasi, seolah bertanya apa lagi yang ingin kubantah.

Di saat itu, aku merasa ada sesuatu di hatiku yang runtuh dengan keras.

Belakangan ini, demi Divora, Zavian melanggar prinsip yang kami pegang bersama, menghancurkan kesepakatan kami berdua. Meski aku marah, aku tetap yakin Zavian hanya merasa kasihan padanya, dan hatinya masih ada padaku.

Saat dia memihak Divora terang-terangan dan dengan jelas memberi kelonggaran padanya, aku sempat goyah, tetapi akhirnya tetap memilih untuk percaya padanya.

Namun di saat ini, aku benar-benar mulai meragukan apakah di hati Zavian masih ada aku.

Pada akhirnya, aku tetap berusaha menstabilkan emosi, menunjuk kolega di samping. "Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya mereka, barusan mereka semua melihatnya."

Belum sempat kolega-kolega bicara, Zavian sudah mencibir dengan sikap dingin, "Tanya mereka buat apa? Kamu atasan mereka, tentu saja mereka nggak berani berkata apa-apa tentangmu."

Hatiku benar-benar dingin.

Beberapa hari ini mereka menyebarkan rumor tentangku ke mana-mana, memakiku menyalahgunakan wewenang, bahkan aku sendiri sudah mendengarnya.

Akan tetapi, apakah Zavian memang tidak mendengar, atau sebenarnya tidak peduli?

Atau mungkin dia sengaja memakai alasan ini untuk membela Divora?

Semua itu sudah tidak penting lagi.

Aku menatap Zavian yang melangkah maju untuk menenangkan Divora, lalu tersenyum sinis. "Kalau bahkan kepercayaan seperti ini saja sudah nggak ada, kalau begitu kita putus saja."

Tanpa menunggu reaksi siapa pun, setelah mengucapkan putus, aku segera pergi.

Zavian segera mengejarku, dia berlari kecil menarik tanganku, matanya memerah, tampak sangat sedih soal putus ini. "Nia, aku cuma menegurmu sedikit, kamu segera ajak putus? Bagaimana bisa kamu mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu?"

Aku masih diliputi amarah, menepis tangannya. "Hatimu sudah nggak ada padaku, kalau kita nggak putus, memangnya masih bisa apa lagi?"

Zavian mengerutkan kening. "Aku sudah menjelaskannya padamu, aku cuma kasihan padanya dan ingin membantunya saja, kenapa kamu malah berpikir yang aneh-aneh?"

"Chania, kamu bilang aku nggak percaya kamu, tapi apa kamu percaya aku? Bukankah sekarang kamu juga sedang mencurigai aku?"

"Aku benar-benar nggak menyangka, delapan tahun hubungan, akhirnya ternyata serapuh ini."

Zavian berkata terisak, air matanya hampir menetes.

Akulah yang sejak awal impulsif mengajukan putus.

Melihatnya seperti ini, hatiku segera melunak.

Dan untuk sesaat, aku bahkan merasa apa yang dia katakan masuk akal, mulai ragu apakah aku memang terlalu banyak berpikir.

Begitu amarahku mereda, aku menunduk dan meminta maaf padanya dengan suara pelan.

Melihat aku melunak, Zavian sengaja mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah pesanan perencanaan pernikahan, lalu menyodorkannya ke arahku sambil berkata dengan suara serak, "Aku dengar tiga bulan lalu proyek kalian mendapat penghargaan, dan beberapa hari lagi akan ada konferensi pers."

"Aku sebenarnya berniat melamarmu di saat paling gemilang itu, lalu kita mengadakan pernikahan. Hari-hari ini aku sering dekat dengan Divora juga karena aku minta sarannya, mau kasih hadiah pernikahan apa buatmu."

"Tapi sekarang, karena kamu bilang mau putus, ya sudah, aku batalkan saja pesanannya."

Sambil bicara, dia berpura-pura hendak menekan tombol "batal". Saat itu aku dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, bagaimana sempat berpikir banyak. Buru-buru aku menahan tangannya dan mengembalikan halaman itu, dengan gugup terus meminta maaf.

Akhirnya Zavian tersenyum. "Nggak dibatalkan juga nggak apa-apa. Chania, kamu harus janji padaku, selamanya nggak boleh lagi ngomong putus padaku."

Aku mengangguk. "Baik, aku janji."

Dia dengan senang mengecup keningku. "Kalau begitu, aku perlihatkan dulu hadiah yang kupilih buatmu."

Selesai bicara, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang indah dari tasnya. Kubuka dan kulihat, itu sebuah dompet.

"Aku khusus menyiapkan hadiah ini buatmu, suka nggak?" Matanya penuh senyum.

Aku menerima dompet itu dan mengamatinya, tetapi menemukan ada ukiran kecil bertuliskan "D.Y." di dalamnya.

Hatiku bergetar, tetapi wajahku tetap tenang saat bertanya, "Singkatan ini maksudnya apa?"

"D.Y.", bukankah itu tepat singkatan dua huruf awal nama Divora Yasmin?

Sorot mata Zavian sempat menunjukkan kepanikan sesaat, lalu dia tersenyum. "Huruf D.Y. mewakili Dear You, artinya kamu yang tersayang. Aku sengaja mengukirnya, suka nggak?"

Penjelasan ini terasa agak dipaksakan, dan hatiku yang baru saja menghangat kembali diselimuti kabut keraguan.

Namun setelah hari itu, Zavian memang benar-benar agak menjaga jarak dari Divora.

Melihat perubahannya, aku sungguh merasa aku dan Zavian bisa sampai ke akhir yang bahagia.

Aku juga merasa dia akan perlahan menjauh dari Divora saat kami mulai membicarakan pernikahan.

Hidup kami akan kembali ke jalurnya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Masa Silam yang Tak Bisa Kembali   Bab 27

    Konon, setelah kembali ditangkap, kondisi mental Divora mulai tidak normal, kadang berteriak-teriak membanggakan pencapaiannya, merasa semua orang harus menyanjung dan mengaguminya.Keluarganya sudah benar-benar tak mau mengurusnya lagi. Mereka pernah mengirimnya ke rumah sakit jiwa sekali, tetapi setelah dia kabur, mereka tidak peduli lagi padanya.Dia berkeliaran ke mana-mana, bahkan beberapa kali mencari Zavian.Zavian sekarang memang hidupnya tidak memuaskan, tetapi dia masih ingin hidup, sampai ketakutan dan akhirnya memilih untuk berhenti bekerja, lalu pindah kota.Aku mengobrol santai sebentar dengan kolegaku, lalu kami pulang ke rumah masing-masing.Hari-hari berikutnya, kami mengunjungi semua kerabat dan teman di sini. Namun karena masih tersisa beberapa hari sebelum waktu kepulangan, kami pun berdiskusi untuk jalan-jalan ke kota lain.Untuk usulan ini, kedua anakku tentu mengangkat tangan setuju. Suamiku yang memang suka jalan-jalan juga sama sekali tidak keberatan.Kami pind

  • Masa Silam yang Tak Bisa Kembali   Bab 26

    Kolegaku juga ikut tertawa. "Mana mungkin bukan kemudahan? Coba saja lihat, Divora terpakai atau nggak fasilitas itu?"Setelah tertawa, barulah kolegaku menceritakan soal Divora.Latar belakang keluarga Divora bukan hanya tidak sesulit yang dia gambarkan saat menjual belas kasihan, tetapi justru tergolong cukup berada.Jadi setelah keluarganya berkali-kali menyewa pengacara dan menggunakan berbagai cara untuk meringankan hukumannya, awal tahun ini dia sebenarnya sudah dibebaskan bersyarat.Namun entah karena obsesi atau alasan lain, dia malah kembali mencari Zavian.Zavian ditusuk olehnya sampai hampir meninggal. Setelah sadar, pria itu kehilangan pekerjaan, pekerjaan barunya pun tidak berjalan mulus, bagaimana mungkin masih mau rujuk dengannya, membencinya saja belum cukup.Setelah beberapa kali ditolak Zavian, Divora makin lama makin kesal.Dia berkata pada Zavian bahwa suatu hari nanti dia akan membuat Zavian melihatnya dengan cara berbeda. Dia juga mengatakan, kelak Zavian menyesal

  • Masa Silam yang Tak Bisa Kembali   Bab 25

    Keesokan harinya, aku dan suamiku kembali naik pesawat, meninggalkan kota yang pernah menampung kenanganku sekaligus memberiku penderitaan tak berujung itu.Bertahun-tahun berlalu, masa lalu telah lewat, akhirnya aku bisa melepaskannya.Bertemu lagi dengan Zavian dan Divora, sudah merupakan kejadian tujuh tahun kemudian.Kedua anakku hampir masuk SMP. Sebagai hadiah karena mereka berdua meraih hasil yang cukup baik saat lulus SD, aku membawa suamiku dan mereka pulang untuk jalan-jalan, sekaligus menjenguk kerabat di dalam negeri.Baru dari mulut kolega lama aku tahu bahwa ternyata Zavian sudah sadar dua tahun lalu, bisa dibilang sebuah keajaiban medis.Namun meski Zavian sudah siuman, pekerjaannya sejak lama sudah hilang.Tahun itu, ketika Divora dilaporkan kami, memicu kehebohan yang cukup besar.Ketika berbagai perbuatannya satu per satu dibongkar dan terungkap ke publik. Tentu saja orang-orang mulai menelusuri latar belakang Divora, bagaimana dia masuk perusahaan, siapa yang melindu

  • Masa Silam yang Tak Bisa Kembali   Bab 24

    Karena suamiku yang menjadi penjamin, dia sangat memperhatikan keadaanku dan beberapa kali datang menjengukku.Dalam obrolan santai, kami tak sengaja menemukan bahwa ternyata kami sangat nyambung, buku dan film yang kami sukai pun sangat mirip.Sejak itu, hubungan kami pun makin dekat.Namun pekerjaan baru dan hubungan baru tidak sepenuhnya menghapus luka lama.Hidupku kembali ke jalurnya, bahkan lebih nyaman dan lebih manis dari sebelumnya. Akan tetapi, kata-kata ejekan itu, serta sikap sopan tetapi penuh keraguan itu, masih sering membuatku sulit tidur.Beberapa kali luapan emosi yang tiba-tiba muncul menyadarkanku bahwa aku sebenarnya belum sepenuhnya pulih dari semua pukulan itu.Di permukaan, aku terlihat sama seperti sebelum difitnah, bekerja keras, ramah pada kolega, emosiku stabil.Namun secara pribadi, aku tidak bisa mengingat kejadian saat aku difitnah di depan umum, juga tidak bisa secara aktif menyebutkan hal itu.Suamiku dengan peka menyadari keanehanku. Dia pun sebisa mun

  • Masa Silam yang Tak Bisa Kembali   Bab 23

    Waktu itu, aku baru saja mengalami titik terendah dalam karier dan pengkhianatan cinta. Opini publik di sekitarku juga sangat tidak bersahabat, belum lagi orang-orang kecil yang suka menyanjung atasan dan menginjak bawahan, melontarkan sindiran dingin.Dalam amarah, aku mengundurkan diri dan pergi ke luar negeri.Bahkan aku sendiri tidak bisa menjelaskan dengan jelas, mana yang lebih berat, perasaan tersinggung karena harga diri, atau keinginan untuk lari dari kenyataan.Atau mungkin, aku hanya sedang menyalahkan diri sendiri, karena sebelum semuanya terjadi, sebenarnya sudah ada begitu banyak tanda-tanda kecil.Keberpihakan Zavian pada Divora, dompet yang terukir inisial nama Divora, sikap Zavian yang aneh sebelum konferensi pers, serta pertanyaan tanpa awal tanpa akhir yang dia lontarkan, "Nia, kalau aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah, apa kamu akan meninggalkanku?"Jelas ada begitu banyak petunjuk, tetapi aku justru tidak menganggapnya serius.Bahkan setelah mengajukan putus

  • Masa Silam yang Tak Bisa Kembali   Bab 22

    "Jadi, perbedaanku dengan kolega-kolega lain sebenarnya lebih karena jarak usaha, bukan jarak bakat, begitu maksudmu?"Sudut bibirku terangkat. "Kalau itu sih nggak juga.""Antara kamu dan orang lain, memang benar ada jarak bakat.""Dengan usaha yang sama, mereka bisa mendapat lebih banyak umpan balik positif, jadi lain kali mereka lebih mudah memilih untuk berusaha lagi. Sedangkan kamu ...."Aku mengangkat bahu. "Aku sopan sedikit ya, aku memang sudah tahu, tapi nggak perlu diungkap, ya."Dari belakang terdengar makian Divora yang sudah jebol mentalnya, sementara aku melangkah keluar dengan perasaan ringan.Saat kembali ke rumah, langit sudah mulai gelap.Suamiku masih menungguku di dalam."Bagaimana?" tanyanya penuh perhatian.Melihat ekspresinya yang tegang, aku tak bisa menahan tawa. "Kenapa, kamu takut aku tersakiti oleh kata-katanya? Nggak mungkin!""Sekarang aku orang bebas, dia tahanan. Aku sukses dan punya nama, dia reputasinya hancur. Aku punya suami dan anak-anak sebaik ini,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status