Short
Masa Silam yang Tak Bisa Kembali

Masa Silam yang Tak Bisa Kembali

Par:  CahayaComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
27Chapitres
15Vues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Setelah delapan tahun di luar negeri, aku diundang pulang ke tanah air dengan bayaran besar, dan setelah seminar selesai aku bertemu mantan pacarku, Zavian. Zavian dengan inisiatif sendiri melamarku, ingin melanjutkan kembali hubungan kami. Seketika para mantan kolega di lembaga riset ikut bersorak, menunggu aku menangis haru lalu mengiakan. Bagaimanapun mereka semua tahu, dulu aku mencintai Zavian sampai bisa mengabaikan segalanya. Namun sepertinya mereka lupa, delapan tahun yang lalu, di konferensi peluncuran produk baru, pria itu menolak lamaranku dengan wajah dingin. Demi memastikan adik tingkatnya mendapat bonus, dia bahkan memfitnahku di depan ratusan kamera, menuduhku mencuri hasil kerja adik itu. Aku mati-matian membela diri. Namun di bawah bukti palsunya yang sempurna, aku benar-benar tak bisa menyangkal apa pun. Dia membiarkan adik tingkat itu membeli popularitas besar-besaran, menggerakkan hujatan massal di seluruh internet terhadapku. Hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun berubah menjadi noda hitam dalam hidupku. Hubungan cinta yang sudah lama terjalin menjadi bahan tertawaan. Sejak hari itu, aku hanya bisa kabur ke luar negeri dengan tergesa-gesa. Kini aku kembali, Zavian justru membawa cincin, berlutut dengan satu kaki di hadapanku, tersenyum tampan sambil berkata, "Semua itu sudah berlalu. Beberapa tahun ini amarahku juga sudah reda. Karena kamu sudah kembali, mari kita menikah." Namun dia tidak tahu, aku sudah menikah.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

"Nia, jangan bergengsi lagi. Kamu nggak tahu, begitu Zavian dengar kamu pulang ke tanah air, dia segera meninggalkan pekerjaannya di laboratorium dan bergegas ke sini. Di hatinya, dia masih mencintaimu."

"Selama kamu pergi bertahun-tahun ini, dia bahkan mengunci laboratoriummu, membersihkannya secara rutin setiap hari, dan sama sekali nggak membiarkan orang luar masuk. Zavian begitu setia padamu, lagian dia sebagai laki-laki yang lebih dulu mengajakmu balikan, kamu harus benar-benar menghargainya."

Aku tertegun.

Aku melirik para mantan kolega yang tampak ramai membujukku untuk kembali dengan Zavian, padahal mereka sebenarnya hanya ingin menonton keramaian, lalu menatap Zavian yang berdiri di depanku sambil mengatakan ingin rujuk.

Sesaat aku merasa bingung.

Aku bingung bagaimana mereka bisa seolah mengalami amnesia massal dan melupakan seluruh proses Zavian memfitnahku dulu. Aku juga heran, setelah delapan tahun berlalu, Zavian malah datang melamarku.

Aku mengira, tak lama setelah kepergianku, dia pasti sudah menikah dengan adik tingkatannya, Divora.

Tak kusangka sampai sekarang mereka bahkan belum bersama.

Akan tetapi, itu sudah tidak ada hubungannya denganku. Jangankan sekarang aku sudah punya keluarga baru, bahkan kalaupun tidak, aku sudah sepenuhnya kecewa padanya.

Aku menatap ringan wajah Zavian yang penuh harap itu, lalu tersenyum dan berkata, "Nggak kusangka Pak Zavian masih terpikir untuk menikah denganku, aku merasa terhormat. Tapi soal menikah, sebaiknya nggak usah."

"Sudah bertahun-tahun berlalu, aku bahkan hampir melupakanmu."

Begitu kata-kataku jatuh, suasana sekeliling segera heboh.

Tatapan Zavian padaku penuh keterkejutan. Setelah lama terdiam barulah bibirnya bergetar saat berkata, "Mana mungkin."

Reaksi orang-orang di sekitarnya pun sama, berbisik-bisik sebentar, lalu tanpa dikomando, secara serempak menyimpulkan bahwa aku masih sedang marah.

Saat itu adik tingkat Zavian yang bernama Divora, datang terlambat. Dia menepuk punggung Zavian dengan gerakan menenangkan, lalu tersenyum menatapku. "Kak Nia, aku tahu kamu marah karena kejadian sebelumnya, tapi pekerjaan adalah pekerjaan, perasaan adalah perasaan. Janganlah dicampuradukkan."

Mendengar kata-kata wanita itu, aku merasa ingin tertawa.

Delapan tahun yang lalu, Zavian juga mengatakan hal yang sama padaku.

Dulu setelah lulus pascasarjana, aku dan Zavian melamar ke perusahaan riset yang sama. Saat hasil wawancara keluar, aku mendapat peringkat pertama, dia gagal walau hanya selisih satu poin.

Melihat Zavian yang murung, tanpa sadar aku ikut gelisah. Akhirnya aku mengatakan pada perusahaan itu, kalau mereka tidak menerima Zavian, aku juga tidak akan masuk.

Perusahaan tak rela kehilangan diriku. Selain itu, nilai Zavian memang sayang kalau dilepas. Setelah dipikirkan, mereka akhirnya menerima kami berdua secara khusus.

Belakangan Zavian dipindahkan ke departemen pengawasan yang sehari-hari mengawasi pelanggaran di laboratorium. Dalam arti tertentu, dia dianggap sebagai atasan departemen kami.

Awalnya Zavian sangat senang. Namun kemudian, dia menopang dagunya dan berkata dengan gelisah, "Tapi kamu pacarku. Kalau kamu melanggar aturan, seharusnya aku membiarkanmu, atau tetap mencatatnya?"

"Kalau kubiarkan, aku mengkhianati tugasku. Tapi kalau kucatat, kamu bisa kena potong gaji dan dimarahi, aku juga nggak tega. Aku takut itu akan memengaruhi hubungan kita."

Melihat wajahnya yang begitu pusing, aku merasa lucu. Aku lalu bilang padanya bahwa aku akan berhati-hati agar tidak melanggar aturan atau menyulitkannya, tetapi dia tetap gelisah.

Maka aku membuat kesepakatan dengannya.

Pekerjaan adalah pekerjaan, perasaan adalah perasaan, harus dipisahkan dengan jelas, tidak boleh dicampuradukkan.

Awalnya kami berdua menjalankannya dengan baik, sampai suatu hari Zavian menyelipkan selembar resume Divora kepadaku di meja makan.

Dia mengedipkan mata. "Bukankah kuota rekrutmen kampus di departemenmu tahun ini masih kurang satu? Kebetulan aku punya mahasiswa bagus untuk direkomendasikan. Nggak usah berterima kasih, anggap saja aku membantu meringankan bebanmu."

Biasanya dia tidak terlalu peduli dengan urusanku di laboratorium, tetapi hari itu tiba-tiba membahas kekurangan staf di departemen kami, bahkan tahu jelas bahwa kuota rekrutmen masih kurang satu.

Dengan sedikit ragu aku mengecek nilai Divora di kampus, dari tujuh mata kuliah, lima gagal.

Maka tanpa ragu aku menolaknya.

"Jangan bercanda soal pekerjaan. Orang seperti ini sama sekali nggak memenuhi standar penerimaan."

Zavian tidak mau menyerah. "Dia cuma lemah di teori saja, sebenarnya dia pintar. Terima saja dulu, beri dia satu kesempatan."

Aku bilang padanya, tindakan itu sepertinya tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan, Zavian pun memonyongkan bibir.

"Tapi adik itu sudah banyak membantu pacarmu ini. Sewaktu aku jatuh di lapangan basket dulu, kamu nggak dapat tiket jadi nggak bisa datang, dialah yang membelikan obat dan merawatku. Sebagai pacar, bukankah seharusnya kamu berterima kasih?"

Saat itu aku sudah menyadari ketidaksenangan Zavian, tetapi setelah berpikir sesaat, aku tetap mengatakan padanya,

"Aku akan cari waktu untuk mentraktirnya makan sebagai ucapan terima kasih, tapi aku nggak akan lalai dalam pekerjaan. Urusan kerja tetap harus sesuai aturan, dan kualifikasinya nggak memenuhi persyaratan perusahaan."

"Lagian, bukankah kita sudah sepakat untuk memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan?"

Zavian marah, membanting sendok ke meja dengan keras dan berdiri. "Aturan itu mati, tetapi manusia hidup. Chania, kenapa kamu bisa sekaku ini?"

"Lagian, sekalipun dia diterima, perusahaan nggak akan bangkrut karena satu orang. Kenapa kamu nggak mau memberinya satu kesempatan?"

"Aku tanya sekali lagi, jadi kamu mau menerimanya atau nggak?"

Menatap wajah Zavian yang kesal, jantungku berdegup kencang, seluruh tubuhku diliputi kegelisahan.

Namun pada akhirnya, aku tetap berkata, "Nggak bisa diterima ...."

Belum selesai bicara, Zavian meraih taplak meja dan menariknya dengan keras.

Sup dan hidangan terlempar ke mana-mana, piring-piring pecah berserakan di lantai.

Aku jelas merasakan serpihan keramik menggores wajahku, cairan hangat mengalir di pipiku. Walau begitu, Zavian seolah tidak melihatnya. Setelah melototiku sekali, dia berbalik pergi.

Itu adalah pertama kalinya Zavian meledak semarah itu.

Aku bahkan lupa dengan perasaan takut seperti apa ketika aku membereskan rumah hari itu. Saat aku sedang merenung apakah aku benar-benar salah dan perlu meminta maaf, Zavian justru pulang sambil bersenandung, seolah tidak terjadi apa-apa.

Begitu melihatku, dia lebih dulu menjelaskan dengan suara lembut, "Maaf ya, Nia, akhir-akhir ini tekanan kerjaku terlalu besar, aku nggak bisa mengendalikan emosi. Nggak membuatmu takut, 'kan?"

Dia memberiku jalan keluar lebih dulu, dan hatiku yang tegang akhirnya bisa sedikit tenang.

Aku mulai berpikir, mungkin caraku menyampaikan penolakan hari itu terlalu kaku.

Departemennya sedang ada peluang promosi, dia ingin naik jabatan, wajar kalau tekanan batinnya besar.

Aku seharusnya lebih pengertian.

Aku bahkan sengaja menyiapkan rencana liburan singkat, ingin mengajaknya bersantai, sekaligus meredakan tekanan kerja dan memberi kami kesempatan menikmati waktu berdua.

Kupikir masalah ini sudah berlalu dan dia pun sudah menyerah, tetapi tak kusangka, tak lama kemudian Divora justru masuk bekerja di departemen kami.
Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
27
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status