“Voya, tetaplah disini. Kalau ada orang yang datang menanyakan keberadaanku, katakan aku sudah tidur,” perintah Yasmin.Voya hanya mengangguk, dan membantu Yasmin menyelinap keluar keluar istana. Ia mengenakan jubah beludru hitam pekat, kerudungnya menutupi seluruh kepalanya untuk menyamarkan sosoknya. Ia melintasi lorong-lorong gelap menuju area kandang kuda tempat Hasan berada.Begitu pintu kayu berat itu tertutup di belakangnya, Yasmin langsung melemparkan tudung jubahnya. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu minyak.“Tuan Hasan,” panggilnya dengan suara parau.Hasan, yang sedang memeriksa beberapa gulungan perkamen, mendongak. Ekspresinya yang tenang langsung berubah menjadi waspada saat melihat kegelisahan di mata Yasmin.“Tuan Putri? Apa yang Anda lakukan tengah malam begini disini?”“Aku baru saja melakukan kesalahan fatal,” Yasmin menjatuhkan diri ke kursi kayu di depan meja Hasan. Tangannya masih gemetar. “Kemarin aku pergi ke gudang gandum pusat. Ber
Read more