Begitu Erion melangkah keluar dari paviliun dan menutup pintu kayu berat itu di belakangnya, ia bersandar sejenak. Napasnya masih menderu, dan panas di wajahnya tak kunjung reda. Ia baru saja akan melangkah menuju kegelapan koridor saat sebuah sosok muncul dari balik pilar.“Baginda?” panggilnya pelan. Elara sedari tadi menunggu dengan cemas, mendekati Erion. “Baginda, kau baik-baik saja?”Erion sedikit terkejut, rahangnya perlahan mengendur saat melihat Elara berdiri di depannya, menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Matanya yang tajam segera menangkap rona merah yang masih tersisa di wajah Erion, kontras dengan sikap kaku yang biasanya ia tunjukkan.“Kenapa wajahmu begitu merah,” bisik Elara, melangkah mendekat dengan nada penuh kecemasan. “Kau demam? Apakah Tuan Putri Yasmina mengatakan sesuatu yang buruk? Apa dia menghinamu lagi?”Erion berdeham, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih tidak karuan. Ia segera memperbaiki posisi berdirinya, berusaha mengembalikan
Read more