LOGINDikhianati dan diusir suaminya, Yasmin mengalami kecelakaan—namun bukannya mati, ia terbangun dalam tubuh Yasmina Sofia Vasnel, putri tiran paling dibenci dalam sebuah novel yang ditakdirkan dieksekusi oleh tunangannya sendiri, Panglima Erion. Demi bertahan hidup dan menemukan jalan pulang, ia berusaha mengubah citra sang putri, tetapi kecurigaan Erion terus membayanginya. "Bukannya kau meminta bukti," bisik Yasmin tenang sambil membuka kancing gaunnya. "Bukti itu ada di balik gaunku!"
View More“Mulai detik ini, kau bukan istriku lagi. Pergi dari sini sekarang juga!”
Di bawah amukan hujan badai, Yasmin berjalan menembus derasnya air. Ia terusir dari rumah megah yang telah ditempatinya selama tujuh tahun. Pandangannya kosong, sementara telinganya terus memutar ulang suara dingin Karel beberapa saat lalu. Tangan kanannya mencengkeram erat koper kecil berisi pakaian seadanya. Tangan lainnya mendekap sebuah buku novel usang berjudul Throne of Thorns. Satu-satunya benda yang ingin ia simpan sebagai sisa dari kenangan manis awal pernikahan, sebelum pengkhianatan menghancurkan segalanya. Saat melangkah di persimpangan jalan yang licin, sebuah mobil melaju kencang tanpa sempat menginjak rem. Cahaya lampu yang menyilaukan mata menjadi hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terpelanting, melayang sejenak, dan menghantam aspal dengan bunyi berdebam yang mengerikan. Dunia perlahan menggelap. Sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya. ☆☆☆☆ Suara badai dan teriakan orang-orang dari kejauhan meredup, berganti dengan keheningan yang asing. Rasa sakit luar biasa yang menghunjam sekujur tubuhnya perlahan memudar, berganti sensasi yang ganjil. Hingga kegelapan itu pecah oleh suara teriakan yang menggelegar. “Tuan Putri, menjauh!” Kedua mata Yasmin terbuka seakan terkesiap. Hal pertama yang ia lihat bukanlah paramedis atau ruang gawat darurat, melainkan sebuah anak panah perak yang melesat membelah udara, tepat menuju ke wajahnya. Kematian terasa hanya tinggal hitungan inci. Wush! Sebelum anak panah itu sempat merenggut nyawanya, sebuah tangan kekar menyambar bahunya. Tubuhnya ditarik dengan kekuatan besar hingga terhempas ke dalam pelukan dada bidang yang keras. Aroma maskulin bercampur bau besi dan kulit menyeruak. Suara desingan anak panah terdengar melewati sisi kepalanya, menggores tipis kulit bahunya sebelum tertancap di batang pohon di belakangnya. Yasmin terengah, jantungnya berdegup kencang. Ia mendongak dan mendapati seorang pria berpakaian militer lengkap dengan jubah hitam yang berkibar, melindunginya dari serangan susulan. “Apa kau terluka?” tanya pria itu. Suaranya rendah, dingin, dan sarat akan ketegangan. Yasmin yang masih linglung hanya bisa mengangguk pelan. Otaknya belum mampu memproses mengapa ia tidak mati di jalanan kota, melainkan terbangun di tengah hutan rimbun dengan gaun sutra hijau yang kotor oleh tanah. “Cepat ikut aku! Lari!” perintah pria itu tegas. Tanpa menunggu persetujuannya, pria itu mencengkeram jemari Yasmin, memaksanya untuk berlari. Yasmin menurut saja, kakinya dipaksa mengikuti langkah lebar sang pria yang tampak sangat terlatih. Sambil berlari dengan napas memburu, Yasmin menyapu pandangan ke sekeliling dengan penuh tanda tanya. Hutan? Kenapa dirinya tiba-tiba di hutan? Tiba-tiba, langkah mereka terhenti. Dua orang penyusup bertopeng muncul dari balik pohon besar, menghalangi jalan keluar dengan pedang terhunus. Pria itu melepaskan cengkraman tangannya, perlahan menghunus pedang panjang dari pinggangnya. Gerakannya seperti seekor pemangsa yang telah mengunci targetnya. Tanpa peringatan, salah satu penyusup menerjang maju, mengayunkan pedang besar ke arah kepalanya. Bunyi dentingan logam yang memekakkan telinga bergema saat pria itu menangkis serangan dengan satu tangan. Kekuatan hantamannya begitu besar hingga kakinya sedikit terbenam ke tanah, namun ekspresinya tetap dingin tanpa emosi. Dengan satu putaran pergelangan tangan, ia memutar bilah pedangnya, membuat pedang lawan terlempar ke samping. Penyusup bertopeng kedua tidak tinggal diam. Ia menyerang dari sisi buta, mengincar punggung sang pelindung. “Di belakangmu!” teriak Yasmin spontan, jantungnya hampir copot. Seolah sudah menduga, pria itu merunduk dengan gerakan yang sangat luwes. Ia memutar tubuh, sapuan kaki nya membuat penyusup kedua kehilangan keseimbangan. Belum sempat lawan itu kembali berdiri, ia sudah bergerak maju—terlalu cepat untuk ditangkap mata manusia biasa. Sring! Logam dingin itu membelah udara dalam satu garis lurus yang sempurna. Yasmin terpaku, matanya melebar menyaksikan pemandangan mengerikan itu secara langsung. Pedang pria itu menebas leher salah satu penyerang dengan presisi yang mematikan. Cairan hangat dan kental menyemprot ke udara, sebagian mendarat tepat di pipi dan dada Yasmin. Ia jatuh terduduk di tanah, tangannya gemetar hebat saat menyentuh bercak merah yang kini membasahi kulitnya. Di hadapannya, kedua tubuh pria bertopeng itu ambruk tidak bernyawa dengan posisi mengenaskan. Pria yang menyelamatkannya berbalik, berdiri di antara mayat yang baru saja ia buat, memegang pedang yang masih meneteskan darah. Yasmin merapat ke batang pohon, tubuhnya bergetar hebat. Mata hazel pria itu menatapnya, terlihat samar senyuman miring di wajahnya. Ia menyeka darah di bilah pedangnya dengan kain tanpa ekspresi. “Lain kali, kalau kau ingin mencari perhatian dengan memisahkan diri dari rombongan berburu, pastikan kau siap untuk mati, Putri Yasmina.” “Siapa kau?” tanya Yasmin dengan suara serak dan panik. “Namaku Yasmin. Bukan Yasmina.” imbuhnya masih terengah. “Sebenarnya... kita ada di mana? Kenapa kita berlari?” Pria itu mengerutkan keningnya. Tubuhnya yang sedang memeriksa keadaan luar langsung terhenti. Ia perlahan menoleh, menatap Yasmin dengan dahi berkerut dan tatapan yang sangat aneh. Ada kilat dingin di matanya, tapi ia tetap mempertahankan nada bicara yang formal. “Aku Erion,” jawabnya pendek, matanya menyipit meneliti ekspresi Yasmin. “Erion siapa?” Erion menghela napas panjang, rahangnya mengeras—terlihat jelas ia sedang berusaha sabar. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak. “Cukup membuat leluconnya, Tuan Putri. Ini bukan waktu yang tepat untuk bermain peran,” desisnya dingin. “Sekarang kita harus mencari cara untuk pergi dari sini sebelum para penyusup itu mengejar kita.” “Tapi aku benar-benar tidak mengerti—” “Yasmina!” potong Erion dengan penekanan pada namanya. “Sadarlah. Nyawamu sedang terancam. Aku tidak peduli sandiwara apa yang sedang kau mainkan sekarang, tapi pastikan kau tetap hidup sampai kita mencapai perbatasan hutan.” Yasmina? Erion? Yasmin merasa mengenal nama-nama itu. Tapi Dimana? Seketika, kesadaran menghantamnya seperti petir. Matanya membulat seraya panik melihat sekitar, lalu kembali menatap pria di depannya. Tubuhnya bergetar hebat. Nama-nama ini adalah tokoh novel Throne of Thorns. Novel favoritnya yang ia dekap sebelum kecelakaan. Yasmin menatap kedua tangannya, kulitnya begitu putih bersih. Ia pun meraih ujung rambut, dilihatnya kini Rambutnya berwarna coklat madu panjang sepinggang, sangat kontras dengan rambut hitam sebahu miliknya. “Kenapa aku bisa disini?” gumamnya bingung.Yasmin berjalan tegak keluar ruang kerja Raja Hazir. Di sisi kiri dan kanannya, dua pengawal berpakaian zirah lengkap. Tidak memegangnya, tidak membelenggu, ataupun bertindak kasar. Tapi keberadaan mereka cukup menyampaikan pesannya sendiri. Ini bukan perjalanan pulang biasa.“Yasmina, sampai persidangan dewan kerajaan dibuka, kau harus tetap tinggal di paviliunmu. Tidak boleh keluar. Tidak boleh menerima tamu.”Keputusan Raja Hazir masih terngiang jelas. Suara berat pemimpin Pervane itu terdengar sangat letih, seolah beban di pundaknya baru saja ditambah oleh pengkhianatan darah dagingnya sendiri.“Kalau kau tidak bersalah, maka persidangan akan membuktikannya. Tapi sebelum itu semua kau tidak diperbolehkan berkeliaran bebas,” lanjut Raja Hazir sesaat sebelum Yasmin melintasi pintu.Langkah Yasmin tetap teratur. Matanya menatap lurus ke depan dengan dagu tetap terangkat tinggi. Ia menolak memberikan kepuasan bagi siapa pun yang ingin melihatnya hancur.Meski di dalam dadanya, jantung
Yasmin melangkah masuk ke ruang kerja Raja Hazir yang terasa lebih sempit dari biasanya. Jantungnya sudah berdegup tidak karuan.Ratu Cassia bangkit dari kursi sampingnya, melangkah cepat ke arah Yasmin dengan tangan terbuka, dan sebelum Yasmin sempat bersiap, pelukan itu sudah melingkarinya. Seperti pelukan seorang ibu yang putrinya baru saja terselamatkan dari tepi jurang.“Putriku,” bisik Cassia di telinganya, suaranya bergetar dengan sempurna. “Mengapa kau melakukan ini?”Yasmin mematung, bisa merasakan dinginnya niat di balik pelukan itu.“Dia memulainya dengan drama yang sangat indah,” batin Yasmin tajam.Yasmin melepaskan diri dengan halus agar tidak terlihat menolak terang-terangan. Ia membungkuk hormat pada Raja Hazir yang menatapnya dengan kemarahan seorang penguasa pada pengkhianat.“Ayahanda memanggil, hamba menghadap.”Raja Hazir tidak menjawab salamnya. Tangannya bergerak melemparkan satu gulungan perkamen begitu saja ke lantai sampai mendarat tepat di depan kaki Yasmin.
Yasmin melangkah menyusuri taman rahasia di bawah kepekatan tengah malam. Di sana, ia melihat pemandangan yang memilukan: sosok wanita yang wajahnya adalah cerminannya sendiri sedang bersimpuh di pusara sang ibu.Jemari pucat Yasmina yang asli meremas tangkai mawar begitu erat hingga darah segar mengucur dari sela jarinya, menetes di atas tanah makam yang dingin."Bangunlah, Yasmin... kumohon, bersiaplah," isak Yasmina dengan suara parau yang menyayat. "Badai hitam telah bersatu. Mereka tidak lagi merangkak, mereka sedang berlari untuk menggulungmu dalam kehancuran yang tak terbendung."Melihat pemandangan itu, amarah Yasmin justru meledak di dadanya. Ia melangkah mendekat, suaranya membelah kesunyian taman dengan nada rendah yang penuh penekanan."Berhenti menangis! Ini semua salahmu! Kenapa kau meninggalkan lubang sedalam ini untukku? Dan stempel itu, kenapa kau memberikannya pada Jetmir?! Kau tahu dia menggunakannya untuk memfitnahmu sebagai pemimpin pemberontak!"Yasmina mendongak
Di atas meja kayu ek yang berat, dokumen-dokumen pengkhianatan yang telah dirakit selama bertahun-tahun kini bersanding dengan stempel pribadi Yasmina yang berkilat kemerahan.“Besok, saat matahari belum muncul aku akan menghadap Hazir. Aku akan mulai menyajikan cerita yang begitu rapi sehingga dia tidak akan punya pilihan selain menganggap putri kesayangannya sebagai racun yang melemahkan kerajaan ini dari dalam.”Ratu Cassia mengelus permukaan stempel itu dengan ujung jarinya yang dingin. Ia ingat saat Yasmina menginjak usia sepuluh tahun, Ratu Cassia meminta Yasmina menyerahkan stempel pribadinya dengan ancaman kalau dirinya kan meminta Raha Hajir membongkar makam Deillza di taman rahasia, dan membuang tulangnya di jalanan.Senyum mencemooh hadir di wajahnya, mengingat wajah Yasmina kecil yang terlihat memerah menahan tangis dan amarah sambil menyerahkan stempelnya.“Yang Mulia Ratu, jangan biarkan dia mati di tiang gantungan, Cassia. Kau sudah berjanji padaku. Dia kan menjadi mili
“Voya, menurutmu berapa lama aku harus berendam di air dingin sampai tubuhku benar-benar jatuh sakit?” gumam Yasmin tanpa menoleh. Tatapannya kosong, terpaku pada permukaan kolam ikan yang tenang di bawah teras paviliun.“Ya? Bagaimana maksudnya, Tuan Putri?” Voya menghentikan kegiatannya mengelap
“Aku harus mencari peruntungan yang lain, sambil menunggu Elena memilih akan berada disisiku atau menjadi musuhku,” ucapnya sambil melangkah tenang menembus kegelapan menuju area kandang kuda.Ia harus bergerak cepat mencari lebih banyak sekutu. Ia butuh orang-orang yang telah dihancurkan oleh Yasm
Tubuh Yasmin terasa berat pagi ini. Ia terbangun dengan mata sembab dan kepala yang berdenyut setelah semalaman terjaga di teras, memikirkan orang yang jelas-jelas menjauhinya.“Ada kabar dari Elena?”Voya hanya bisa memberikan gelengan kepala lesu, sambil merapikan meja rias. Tatapannya menyiratka
Langkah kaki Erion yang berdentum di koridor lantai paviliun. Jubah hitamnya menyapu lantai saat ia keluar dari kamar Yasmin. Bibirnya tersenyum miring, rahangnya mengeras, pikirannya dipenuhi sorot mata Yasmina yang terlihat asing. Hal itu mengusik insting Erion.Tepat di belokan menuju serambi lu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore