"Ah, si Ibu bisa aja. Saya mah udah tua, Bu. Kasihan cucu Ibu kalau sama saya, dia kan masih muda, masih cantik. Biar dia puas-puasin main dan senang-senang dulu sebelum pusing mikirin nikah," jawab Juned santai namun tegas. Si Ibu tertawa, seolah mengerti maksud di balik penolakan halus itu. "Ya udah kalau begitu, Mas. Saya permisi dulu ya. Kalau ada waktu luang, mampir aja ke rumah Ibu di ujung jalan atas sana. Tanya aja rumah Bu Nilam, semua orang di sini tahu kok." "Baik, Bu Nilam. Terima kasih banyak ya," ucap Juned sambil mengantar kepergian mereka dengan pandangan mata. "Pagi-pagi sudah ada yang mau dijodohin saja ya kamu, Mas..." sindir Maudy dengan suara serak khas bangun tidur, namun matanya menatap tajam ke arah Juned. Juned hanya bisa menyengir lebar, mencoba menunjukkan wajah tak berdosa sambil mematikan rokoknya di asbak. "Eh, Non Maudy... udah bangun? Itu tadi cuma bercandaan ibu-ibu penjual ubi aja." Tanpa aba-aba, Maudy melangkah keluar ke teras dengan langkah ce
Last Updated : 2026-04-07 Read more