Nayla dengan cepat menempelkan satu jari telunjuknya di depan bibir Juned seraya menatapnya tajam. "Diem, Mas..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar. Juned membeku di tempat, mematung dengan jantung yang berdegup kencang di balik dadanya. "Iya, Bu... bentar, aku mules banget ini..." sahut Nayla sedikit mengeraskan suara, berpura-pura meringis di balik pintu. Dari luar, suara Ibu terdengar mereda. "Oh, ya udah. Ibu mau ke pasar sekalian ke warung Mbok Nem dulu, mau pesan nasi uduk buat sarapan Mas-mu sekalian Mbak-mu juga." "Iya, Bu... aku juga ya, mau..." balas Nayla cepat seraya melirik Juned dengan senyum nakal. "Ya udah, nanti jam setengah enam bangunin Mbak-mu, ya." "Iya, Bu..." sahut Nayla mantap. Langkah kaki Ibu perlahan terdengar menjauh meninggalkan area depan kamar mandi, meninggalkan Juned yang akhirnya bisa bernapas lega walau ketegangan di antara mereka berdua justru makin terasa."Udah, sana keluar, Nay," bisik Juned cepat, tangannya memegang bahu Nayla.
Last Updated : 2026-08-02 Read more