Serena tahu, ia menjadi anak yang durhaka pada ayahnya karena jarang sekali menjenguk. Tetapi, Serena juga tidak ingin melihat ayahnya sakit. Ketika perawat ayahnya menghubunginya ia berada di ruang sidang. Bahkan Martin juga menghubunginya, tapi meski Serena mengerti situasi ayahnya ia juga tidak bisa meninggalkan ruang sidang. Serena sangat-sangat bersyukur ada Martin yang membantunya. Martin membawa ayahnya ke rumah sakit yang lebih baik. “Dokter bilang jika ayahmu membaik malam ini, dia bisa dipindahkan ke ruang biasa.” Martin mendampingi Serena pergi ke ruangan Wijaya, ayah Serena. Serena menatap ayahnya yang terbaring di atas ranjang dengan alat medis yang menancap di tubuh. Melalui jendela yang terbuat dari kaca, tubuh ayahnya terlihat semakin kurus. Serena berjalan mendekat, kemudian tangannya terangkat dan menyentuh kaca itu. “Menyebalkan,” lirihnya. Martin menoleh, kemudian menatap Serena yang terdiam setelah mengeluh. “Aku tidak bisa membencinya dan mengabaikannya,”
Read more